Tertumpu harap
disungging sebuah senyum
meluncur lepas diderai mimpi
membentur pagi-pagi sepi anginpun datang menghempas angan
yang menari-nari dalam ingatan
yang selalu luput jika hendak digenggam
Kudekap mesra rasa yang tinggal
bersama sepi kubuai rindu
yang beriak-riak di danau hati
akupun tak pernah mengerti
mengapa badai api ini
tak membangkar jiwa dan langkah
Akankah aku berkata cinta ?
jika suara hanya terukir disudut mata
sebab lidah menjadi kelu
dan langkah tersendat-sendat kaku
sebab tak mampu menahan berat isi dada
Atau bercerita tentang rindu
jika kulit tak pernah bersentuhan
dan darah yang mengalir cepat
sebab menahan perih
Ah.. datanglah tangan-tangan sayang
yang akan membelai malamku
membukakan jendela kamar mimpiku
biarkan angin
dingin datang menutup gelisah
dari bara sangsi yang membakar keringat
Jangan biarkan nafasku berdenyut harap
sementara kenyataan berlangsung dalam bisu
teriklah aku..
dari selimut mimpi ini
telah kau lihat
aku yang merunduk dalam sunyi
kini tertawa bahagia bersama mentari pagi
mendekap mesra hari-hari bersamamu
mengiringi ayunan senyum hatimu
sebab...,
baru dijumpa ini hati kita berpelukan
mengantar hangat disudut kalbu
peluklah aku
hai tangan-tangan sayang yang akan membelai malam-malamku
walau jauh tangan belai
hatimu, sisihkan untukku
(juni 1979)
Ketika kebersamaan itu kembali menyelinap dalam tirai keteguhan hati, dan sembunyi dibalik kekuatan cita sang gadis, ia kembali terperanggah, begitu mudahnya aku menyerah.......dan kalah lagi........atau keseluruhan hidup ini harus dijalani seperti ini......, kepada sesuatu yang tidak dimiliki , tidak dimengerti........
Setelah sekian kali ketakberdayaannya berulang menghadapi si Gadis, ia mengharap si kecil dari Palembang menjadi harapan yang bisa menghibur hatinya...., walau jauh tangan belai , hatimu sisihkan untukku...
Maka iapun bicara tentang keindahan, ketulusan dan kebenaran cintanya. Disinilah ia terlihat ragu, ia bertanya akankah si kecil dari Palembang itu dapat mengganti gadisnya......? Bagaimana akhirnya..., kejauhan jarak kah yang mengurangi kemungkinan itu....! apapun alasannya nyatanya tidak...., pada surat-surat yang kemudian dikirim, ia ceritakan tentang kisah cintanya dengan si si gadis idaman hatinya itu kepada anak mungil dari Palembang yang tak dapat ia lihat bagaimana wajah anak manis itu ketika membaca suratnya....
Setelah periode Juni 1978 ada perbedaan dalam penulisan sajak atau puisi nya, bak sebuah babak dalam satu seri cerita, sebab sampai pada titik dimana ia ingin memilih jalan hidupnya bersama dengan si gadis kecil dari palembang disatu sisi dan disisi lainnya ia tak bisa lari dari sang gadis pujaan hatinya itu. Ia tampak terombang ambing dalam situasi seperti itu..., kesederhanaan cinta si kecil menjadi begitu lekat dihatinya, tapi ketaksanggupannya menghianati cinta kepada si gadis....... ah, betapa cintanya ia kepada si Gadis itu, sekalipun ia sadar bahwa cintanya bukan seperti cinta kebanyakan dan ia mengerti bahwa pada akhirnya ia tetap tidak akan mampu menyatakannya, tapi ia tak pula punya kemampuan untuk melepaskan diri, ia hanya ingin si Gadis mendapatkan orang lain yang dicintainya terlebih dahulu, sebelum ia berpikir untuk mencari yang lain untuk hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar