Kemarau panjang
membakar jiwa, padang-padang kering
ketika panas memenuhi dada
oleh dendam yang dibakar sepi, ah....
kau datang
kembangkan senyummu
purnama di atas tertawa
tiba-tiba terlonjak keakraban lama
dari sapamu terpetik lagu rinduku
yang lama, yang nyaman dan tenang
seperti hujan, datang menyirami pohon-pohon kering
sejuk..!
dan ada rasa lembut mengalir di jiwa ini
akan tetapi...,
kesejukan itu berlalu lebih cepat
bersama bayang-bayangmu yang menghilang dibalik tembok rumahmu
tertegun menatap kesendirian
masih terasa sejuk didada
purnama di atas mengejek
apa yang terjadi barusan
begitu mudahnya aku berubah
itu tak harus terjadi
seandainya aku dapat berkata
“lupakanlah aku”
maka, malam ini
gerimis datang membasuk kota yang luka
mengusir panas dan debu
bersimpuh
kutumpu segala harap... sebuah sajak renta di hadapanku..
ku buka jendela kamarku
biarkan angin dingin masuk
karena kesenyapannya, membasuh lukaku
namun, masihkah tersisa keberanian mengulang kembali
setelah kemarau kali ini.
(september 79)
Ketika ia berada dalam keterasingan dengan dirinya sendiri, sang gadis datang menjenguk hatinya....., mengajaknya berjalan mengikuti langkahnya....! masihkah tersisa kekuatan yang ia miliki... ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar