Rabu, 03 Juni 2009

SEBUAH SAJAK RENTA DICIPTA KARENA KEKASIH YANG DICINTA

Kemarau panjang

membakar jiwa, padang-padang kering

ketika panas memenuhi dada

oleh dendam yang dibakar sepi, ah....

kau datang

kembangkan senyummu

purnama di atas tertawa

tiba-tiba terlonjak keakraban lama

dari sapamu terpetik lagu rinduku

yang lama, yang nyaman dan tenang

seperti hujan, datang menyirami pohon-pohon kering

sejuk..!

dan ada rasa lembut mengalir di jiwa ini

akan tetapi...,

kesejukan itu berlalu lebih cepat

bersama bayang-bayangmu yang menghilang dibalik tembok rumahmu

tertegun menatap kesendirian

masih terasa sejuk didada

purnama di atas mengejek

apa yang terjadi barusan

begitu mudahnya aku berubah

itu tak harus terjadi

seandainya aku dapat berkata

“lupakanlah aku”

maka, malam ini

gerimis datang membasuk kota yang luka

mengusir panas dan debu

bersimpuh

kutumpu segala harap... sebuah sajak renta di hadapanku..

ku buka jendela kamarku

biarkan angin dingin masuk

karena kesenyapannya, membasuh lukaku

namun, masihkah tersisa keberanian mengulang kembali

setelah kemarau kali ini.

(september 79)

Ketika ia berada dalam keterasingan dengan dirinya sendiri, sang gadis datang menjenguk hatinya....., mengajaknya berjalan mengikuti langkahnya....! masihkah tersisa kekuatan yang ia miliki... ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar