Kasih...,
jangan tinggalkan aku
aku takut sendiri, ditaman yang kering ini
di malam pekat dan dingin begini
suara-suara itu, tak mau lagi aku mendengarnya
bunyi jangkrik dan desah nafasku sendiri
Kasih...,
jangan tinggalkan aku
aku takut sendiri di kamar ini
aku takut melihat buku-buku dihadapanku
aku enggan melihat tulisan tanganku sendiri
kamar ini telah sesak oleh bayanganmu
ranjang ini telah padat oleh pertemuan-pertemuan denganmu
Kasih...,
jangan tinggalkan aku sendiri
aku takut digoda sunyi
genggamlah aku dalam tangamu
tuntunlah aku dalam pelukanmu
hingga hilang sirna kesenyapan ini
biarkan aku terlena dalam pangkuanmu
sambil membisikan deritaku
Kasih...,
peluklah aku dan jangan kau lepaskan
belailah rambutku dan tubuh yang lelah ini
penaka angin senja membiakkan putik bunga
teratai kan mekar, hijau kemilau
agar bahagia hati ini
memancar sinar surya dari mataku
(23 nopember 1979)
Seperti sajak sebelumnya, puisi inipun menggambarkan suasana hati yang terus gundah gulana, tak berdaya, mengharap cinta datang sebagai suatu karunia yang ia yakini sebagai kekuatan hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar