Telah kau langkahkan kakimu, menerjang badai
menentang gelombang
menahan arus yang hampir memaksa
melaju tanpa harapan
Tanpa belai
kasih yang diharapkan
titik-titik embun direlung hati
penyegar taman sari mawar mewangi
Sementara itu
hujan dan angin terus melandamu
bisik-bisik rayuan nyanyian malam
merona setiap lembar bulu ditubuhmu
Pelangi senja tersenyum
menanti kau datang
sesetia hatimu
Alam menyambut mesra suara hatimu
gelombang badai tunduk malu menatapmu
sampai anginpun enggan bersentuh denganmu
Dendangmu membuat setiap mulut membisu
Kau buat langkahmu membatu
tapak kakimu terkesan disetiap sanubari
hinga mereka berkata
Intan kemilau mirip matamu
sedang hatimu memancar cahaya merah
bak permata
(awal Nop.78)
Jika ditilik dari puisi ini, dapat dipahami bahwa penulis telah cukup lama memendam perasaan cinta kepada sang gadis. Sebab liwat puisi ini, ia telah dapat bicara tentang diri sang kekasih. Ia tahu dan sangat mengerti bahwa sang gadis menyambut cintanya dan liwat kacamata hatinya, ia lukiskan gejolak hasrat sang kekasih. Namun sebaliknya keterpanaannya kepada sang kekasih menyebabkan ia terpedaya, terperangkap dalam nuansa pribadi sang gadis. Ia telah menangkap kelemahannya dalam memberikan ungkapan cinta kepada si gadis yang sangat dipujanya itu, yakni hanya liwat ungkapan kata-kata yang mampu ditulisnya. Jadi kenyataan yang ada pada dirinya sendiri itulah yang menjadikan ia menulis puisi-puisi, sebab kenyataannya ia tak juga sanggup menyampaikan isi hatinya liwat lisannya langsung kepada sang gadis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar