Senin, 08 Juni 2009

PUISI LANGIT

Riak derai ambak laut
memecah lepas di pantai sepi
membentur tepi karang curam
kian gemuruh
menjadi musik merasuk kalbu
dibuai angin
pohon-pohon palma dan nyiur merunduk mesra
menimbulkan bunyi
mengatupkan mata
dari kepalsuan pesona
Pasir putih
lembut kemilau
terhampar bening menyusuri pantai
membias warna doa
yang berulang-ulang dalam sunyi
sambil berdiri dipematang senja
tersimpan hasrat
tuk membangkitkan sukma
hidup.., membisikkan kata, bak pujangga
langit tak bernoda..!
awan hitam, terhempas kelayar kenangan
Datang.., datanglah kau pujaan
kau akan ku jelang
bersama kita terbang
menerjang gerbang nirwana
tak lagi ku lena dalam pesona
tak juga terkicuh duka
sambutlah aku kini
mari menggapai mesra
untai birahi asmara
lestari bahagia
(awal mei 1979)

Firman langit membawanya kepada teguran “jangan berputus asa dari rahmat Tuhanmu” Ia nampaknya ingin mencoba bangkit, menentang aral melintang, memacu semangat tuk maju kedepan. Menyongsong hidup bersama sang gadis pujaan. Ia berbenah diri, entah apa yang diperolehnya dari firman langit itu.....
Suatu saat ia mendengar w.s. rendra membaca Puisi di Kampus Kuning Rawamangun, hatinya tertegun kagum, mengapa ia begitu dalam terkurung, tak seperti rendra yang lepas liar, bebas merdeka. Ia mulai menengok kedalam hatinya, tentang cinta negerinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar