Kekasih....,
aku mendengar nyanyianmu
aku tau kemana langkahmu menuju
lagumu menggema ditebing hatiku
tapak kakimu membekas dalam jiwaku
aku bahagia...., bangga....,
dan
tetapi,
tebing itu terlalu tinggi
lembah ini terlalu dalam
aku tak dapat mengiringi lagumu dan derap langkahmu
betapa sedih dan dukanya aku
Aku mencoba bernyanyi
laguku sumbang, kau tak mendengarnya
aku melangkah
kau selalu nampak jauh
dari bawah kau kupandang
disaat-saat aku tersungkur lemas
kau berseru “kemarilah”
kau berlambai “ayolah”
Disaat-saat tanganmu hampir kugenggam
didepan jalan tebing terjal kembali
kau ada disana
dan aku kembali tersungkur kebawah
mulai lagi dan merangkak kembali
kini suaramu semakin parau, hampir tak terdengar
langkah kakimu makin menjauh
makin dalam tenggelam dilembah hatiku
Sekarang aku diam dan membisu
semuanya bagiku adalah semu
lagumu bukanlah laguku
langkahmu menuju timur, aku ketenggara
tinggalkan aku dititik ini
dibatas langkahku
biarkan aku ketenggara menjauhi sang surya
teruskan langkahmu ke timur
usah kau berpaling ketenggara
walau sesaat juga
pelangi senja menanti datangmu
Disinilah kita berpisah dengan atau tanpa kata
impian kita hanya semusim
tanpa mawar dan teratai mekar dan mewangi
rindu...? ku bawa ketenggara ke dalam samudra
kau bawa ke Timur dan sirna oleh panas surya
kasih...? kan lenyap
oleh kicauan burung menyambut mentari
seperti embun kemilau di hari terakhir
kan tenggelam oleh badai samudra
seperti perahu sang petualang
Cinta antara kita
ditentang oleh alam yang baik hati ini
air mataku penaka embun kemilau
kan hilang sirna
menentang badai gelombang di samudra luas
ketenggara dan terus ketenggara
mengemudi diri, melawan arus dan topan membadai
mencari yang tersembunyi..., yang asli
membuang yang melekat...., yang palsu
Kekasih...,
untuk terakhir “selamat berpisah “
angin kan membisikan sesuatu kepadamu
bulanpun akan memberikan sinarnya kepadamu
sang surya menanti datangmu, dan ..
kau akan memaafkan kesalahanku
Semoga jalan yang akan kita tempuh
di redhoi oleh Allah SWT
(27 nopember 1978)
Sebuah sajak yang telah sampai dan tiba kepada wujudnya yang asli, kesadaran yang paling dalam dan keberanian yang paling tangguh mengakui kelemahan diri dan tak ingin mengajak si gadis yang dicintai terlibat dalam dunianya yang penuh misteri dan tak bisa dimengerti.
Sayangnya sajak ini tak pernah sampai, sehingga kelak akan terulang kembali suasana seperti ini. Ia telah sampai kepada kepasrahan sejati, tak diingkarinya lagi ketakberdayaannya menghadapi si Gadis, ia rela berpisah karena itulah yang menurutnya terbaik buat sang gadis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar