Kasih, maafkan aku
kali ini bukan karena aku tidak mampu
atau takut dan tidak pula karena malu
tapi, karena keindahan
percayalah hanya itu
yang lain telah kubuang jauh-jauh
Hidup ini penuh gairah
aku mengerti...., akupun seperti kau
digoda nyanyian alam, sendu merasuk kalbu
terlalu dalam, nikmat dan sangat indahnya
hatiku tidak berpalsu
Namun...,
nikmat itu terlalu nyaman dihatiku
merebut semua langkah dan kata-kataku
jangan salahkan kebisuanku
jangan pula salahkan langkahku
langit membiru indah
udara dini hari terasa sejuk
nyanyian alam melambung tinggi
tetapi sayang...
ada sedikit penyesalan
Kau, tak mau turut menikmatinya
hingga hati ini kembali bersedih
Bersabarlah sayang, akan aku
aku adalah orang yang paling lambat
apalagi membayangkan akan mendapatkan belaian
semua perasaanku bersatu akan menerimanya
(15 Nop.78)
Gagal meraih peluang, bak tentara yang berhenti sebelum tiba dimedan perang, kemudian merenung tentang peperangan itu sendiri. “ia mencintai karena itu ia hidup atau ia hidup karenanya ia mencintai” Berlindung dibawah panji kepasrahan, ketakberdayaan. Aku tau, aku mengerti, tapi apa kata hatiku : jangan salahkan kebisuanku, jangan salahkan langkahku.......... yah.. demikianlah kenyataannya. Ia begitu terpana pada sang kekasih sehingga membekukan langkah dan kata-katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar