Senin, 08 Juni 2009

IMPIAN DAN HARAPAN SEUSAI KENYATAAN

Waktu berpacu tanpa peduli
sedang matahari dan angin senja membisu
tak berganti rupa, seperti juga bintang-bintang diangkasa
atau berkata “ hari sudah kian larut”
Langit masih biru, seperti hatiku
senyumku masih ada, dibalik kabut hati
ah... waktu itu sungguh terlalu
dibiarkannya aku sendiri dengan lamunan
Aku tak mau seperti layang-layang yang kalah
dibawa oleh angin ke samudra
jatuh dibadai
dan tenggelam kedasar
Aku bukannya mencari permata
atau kemilaunya mawar harum
hanya setitik embun di ruang sunyi
menghimbau teratai mekar di danau hati
Hari-hari yang lalu, telah benar-benar berlalu
sedang hati ini masih dahaga
seperti menanti
titik-titik air selera menetes di sela bibir yang kaku
Mata memandang hampa dan hati ?
siapa yang menjadi temanku ?
dengan siapa aku berjalan selama ini ?
dendang lagu ini bukan laguku
Nyanyianku mengalun dilembah sepi
hanya detak jantungku sendiri yang mengiringinya
merdu merasuk sukma
bahkan telingaku sendiri tak mendengarnya
Seruling Rumi dan petikan kecapi Iqbal
menyediakan anggur merah yang segar
mengalir lembut di sungai hatiku
darah merahku belum menyuburi bumi ini
dan mawar di taman sari hatimu
Aku masih berharap
waktu mau menemaniku
hingga usia ini tak lagi sepi
biar teratai mekar di danau hatiku
Aku ingin bernyanyi
biar matahari dan angin senja mendengarnya
biar darah merahku mengalir di bumi ini
menyuburi tanaman di Taman sari hatimu
menghimbau mawar mewangi
Aku kan terbang keangkasa
mereguk anggur merah
sementara kau yang kucinta
mengiringi laguku
karena tanpa kau
aku adalah tonggak yang terpaku
aku adalah layang-layang yang putus diangkasa
menurut angin aku kan condong
Dengarkanlah nyanyianku ini
iringi dengan kelembutan belaianmu
biar matahari kan iri
biarkan angin kan merindu
biarkan mereka kan membisu
bersama kita melambung tinggi
mencapai rembulan mengelilingi bintang bintang
agar tak bermalu dihadapan nabi nanti
di hari yang penuh cemas dan takut
Waktu-waktu berubah menjadi madu
sariku dan sarimu kan berpadu
menghimbau teratai mekar mewangi
harum semerbak menyemarakkan alam
Usia kan bertambah muda, menentang waktu
ghairah hidup melampaui gelombang samudra
mewarnai kehidupan kita nan indah
menanti panggilan selesai menjalankan tugas
Alam telah kujabat dari tanganmu
bintang kugenggam dari matamu
anggur putih kuhirup dari dadamu
dan darah merahku menyusuri bumi ini
mengalir lembut di hatimu
cemerlang warna Illahi dari dadaku
(20.Nop.78)

Ia meletakkan kekuatan hidupnya pada cintanya, ia tahu bahwa sang gadislah sumber kekuatan itu, ia merasa tak memiliki apa-apa lagi kecuali cinta itu sendiri, ia berharap kelak keluar manjadi pemenang dan musuhnya adalah dirinya sendiri.
Letak kekuatan puisi ini pada emosional saat membuatnya, kekuatan cinta kepada seseorang yang amat dirindukan itu, menjelma dalam bentuk harapan, impian setelah menyadari kenyataan yang dialami saat itu.
Keberaniannya mengungkap unsur-unsur cinta yg paling dalam tanpa beban : “alam kujabat dari tanganmu, bintang kugenggam dari matamu, anggur putih kuhirup dari dadamu” sebab kesungguhan dan ketulusan hatinya yang terbebas dari keinginan-keinginan lainnya, namun dalam situasi keterasingannya dengan kenyataan dihadapannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar