Jerat malam
mengungkap suasana bathin
bulan berkaca
di laut jawa yang hitam
sambil menghitung lembar demi lembar kenangan
dan beban kata yang tak terucapkan
Di pantai pasir terukir
berapa kali badai melanda
aku yang berkayuh dalam kegelapan
tergulung ombak demi ombak
dan terdampar
ah...
angin terlalu cepat membawaku kemari
Jangan lagi menggugat laut
yang jelmakan duka hitam
pada nyiur
tersimpan nyanyian purba
padamkan duka nan luka
masih jauh fajar kembali
(Januari 1980)
Ia tidak lagi menyalahkan siapa-siapa, bahkan dirinya sendiri, ia ingin menikmati hidup dengan caranya sendiri, ia telah akrab dengan duka dan luka hingga tak terasa perih lagi. Bahkan ia akan memandang apa yang ia bisa lihat dan merasakan apa yang ia dapat nikmati, ia punya sesuatu kekuatan yang kini diyakini terpendam dalam lubuk jiwanya yang paling dalam, entah kapan ........., suatu saat ia akan menjadi dirinya sendiri bak mentari pagi menyongsong hari.....keluar dari kegelapan malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar