Damai....
di puncak bukit Pasir Angin
menyentuh rasa paling dalam
kesunyian alam disini yang hanya diramaikan suara-suara burung
mengiringi lagu rinduku, oleh hidup yang dapat lepas
dari segala keinginan yang membawa tuntutan-tuntutan
Bunga-bunga hutan dari rerumputan yang tumbuh bebas
memadukan warnanya oleh keindahan murni
tanpa perlu merasa dibutuhkan
angkuh dan megah
ternyata, tidak adanya keinginan
adalah bebas dari ketakutan
tersentuh yang datang dan melepas yang pergi
tanpa harapan adalah damai
Dia begitu indah
karena dia menerima hujan yang datang dingin,
angin yang acapkali merontokkan bunga-bunganya
tanpa penyesalan
namun dia anggun untuk tumbuhnya yang wajar
Kupandang gunung-gunung yang memanjang mengelilingi
dalam bentuknya yang gelap
karena aku ingin segera menjadi bagiannya
walau hanya beberapa saat
sebelum kembali kedunia ku
dan langit yang tak pernah kering oleh gumpalan awan
yang memadukan aneka macam bentuk tanpa rupa
oleh ketidak tetapan angin yang menghembusnya
datanglah angin, aku adalah ilalang kini
yang diam dan bergerak
tidak untuk mencari belai
tak ada tuntutan..!
Puncak-puncaknya yang tertutup awan
acapkali menipu diri sebelum terdaki
walau berulang kali pelangi muncul
tanahku tetap becek oleh lagu duka
aku tak berniat menggapai awan
di puncak bukit ini, aku adalah ilalang
yang sedang ditiup angin senja ...
Dan ketika kuluruskan pandangan ke atap-atap rumah kota bogor
kecewa!
tak kulihat jakarta....,
jarak antara kita tak terlalu jauh
tanpa sadar kuhela awan
mendekap mesra bayang-bayangmu
ah.., alangkah bahagianya seandainya kau ada disini
kan kusuntingkan sekuntum bunga hutan itu, diantara kupingmu yang kiri
lantas ku tahu aku tak pernah memandang bunga itu lagi
Disini yang ada hanya kau..!
dan kitapun akan berlari-lari, mengejar mimpi-mimpi lalu....,
lalu kita berteduh disini
di bagian yang paling sepi
mendekap tubuh yang lama ingin bersatu
membongkar isi cermin dalam nada cinta
yang telah tersedia sekian lama
menghela segala keraguan, seperti angin
yang menghempas awan hitam dari tanah kita
kuhirup segala nikmat dari keringatmu
dan akan ku sembunyikan cerita lalu tentang kita
untuk memulainya dengan yang baru dan segar..
Kupandang gumpalan awan yang beriring tanpa rupa
tiba-tiba gelisah datang menggigilkan
di mana damai tadi..?
dimana bunga-bunga hutan itu
dimana pula ilalang yang sedang ditiup angin senja ..?
Dalam bentuknya bunga-bunga hutan itu masih bertebaran disini,
ilalangpun tumbuh berserakan
mengisi tanah-tanah yang belum terpijak manusia
chayalku menghilangkan aku dari duniamu
Kuhempaskan tubuh kerumput-rumput hijau, lelah..!
dan aku duduk memeluk kedua lututku
kulihat pohon-pohon vinus yang berbaris memanjang
makin jauh makin kecil ia
menunjukkan jalan yang menghubungi
kampung dibawah sana
kucoba bayangkan hidup dikampung terpencil itu
aku tetap, makin sedikit keinginan
makin lestari kebahagiaan...
Matahari bersiap terjun kedalam pelukan malam
kegelapan mulai merayapi perbukitan ini
hanya garis merah memanjang disebelah barat
memberi sedikit penerangan, pada jalan curam menurun
tak ada suara-suara lagi dibukit ini
kecuali bunyi jangkrik
mengiringi langkah-langkah kaki yang menuruni bukit
menambah beban
berlari-lari
memacu gelap, tambah turun, gelap menjadi pekat
tak ada yang dapat dilihat
setiap langkah melalui rabaan
sebelum tiba dikampung pertama.
(24 Maret 1979)
Kemanapun ia memalingkan mukanya, ia tak bisa lepas mengingat gadis pujaan hatinya itu, ia berangan-angan andainya ia dapat bersama sang kekasih itu..., ah betapa bahagia dirinya dan ketika ia bepergian dengan teman-temannya ke bukit Pasir Angin, demikian nama yang diberikan penduduk setempat. Ia tak bisa juga lepas dari kerinduan akan sang kekasih, alam yang damai menambahkan rindu dendamnya tak terperi lagi. Puisi ini berbeda dengan yang lain karena menceritakan susana hati saat berada dekat dengan alam yang sunyi, ia bercerita tentang rumput-rumput liar, angin, awan dan gunung serta burung yang berkicau. Tapi pada akhirnya wajah sang kekasih juga yang dicarinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar