Rabu, 03 Juni 2009

AKU TIBA DI SATU TEMPAT

Kusapa tangan lembut yang mau merangkulku

hatiku bicara tentang cintanya

daun-daun hijau yag kutanam dihalaman

Bulan ini

hujan padat semusim

dengan pandang penuh harap

didepan jalan

ku lihat wajah telaga, bening..., teduh

kesitu langkahku...

Angin yang mengusir awan hitam

sebenarnya hanya membawa ia pergi

jika dariku masih ada yang tak terbawa

adalah maafku padamu kasih

yang sengaja kutinggalkan

Sebab disinipun

aku teringat padamu

butir-butir embun didedaunan

adalah sisa air mataku semalam

kupilih wajah telaga

buat berkaca

sebab disitu tak terdapat gelombang

ia mirip mulutku yang bisu...

Jika bunga berkembang

aku menciumnya dekat-dekat

aku selalu ingat cintamu

setelah kutemukan bahagia

kau akan pergi meninggalkanku...

Pada duka yang kupilih,

ada sesuatu yang tak dapat dimengerti,

sayang,

hanya bisa kunikmati sendiri.

(23 Januari 1980)

Puisi terakhir yang ia buat untuk si Gadis, ia telah memilih diam melihat kenyataan lain dihadapannya. Si gadis ia saksikan semakin teguh tak tergoyah menyongsong hari depan...., semakin tak perduli melangkah semakin jauh meninggalkan ia dibelakang. Ia tak marah, tak juga kecewa, sebab sejak semula ia sadar akan menerima kenyataan seperti itu. Ia bahkan berusaha menghilangkan rasa takutnya, bagaimanan mengusir sepi dan rindu hatinya, sementara ia terus bertanya akankah ia sanggup mendapatkan dari yang lain..?

Menunjukkan bahwa setelah sekian lama mengalami hal yang berulang-ulang, ia sadar cintanya tak kan pernah sampai, ia tidak mengerti kenapa harus begitu, tapi semakin lama ia semakin merasa jauh, ia t’lah terbiasa pada duka dan kesendirian, bahkan terbiasa menikmatinya.

Inilah sajak klimaks dari kedukaan hati dan ketakberdayaan menghadapi kenyataan, ia menyintai hanya itu yang ia mengerti, mengapa harus berjiwa besar, mengapa harus berani, mengapa ia harus merasa tak memiliki, malu, kurang pergaulan atau lainnya yang katanya dituntut untuk kehidupan. Semua itu tak pernah dimengerti, tak pernah ada yang memberi tahukannya tentang arti hidup dan perjuangannya. Ia adalah bagian dari cerita hidupya sendiri, ia hanya bisa menilai menurut apa saja yang ada padanya. Setiap kali ia bergerak mengungkap cintanya liwat caranya sendiri, setiap kalipula berakhir dengan kesadaran bahwa si gadis tak dapat mencerna ungkapannya itu.

Pada catatan terakhir dari teks kumpula sajak-sajaknya itu, ia menulis : “D.....*) Aku teringat ketika bunga mekar ditanganmu, merekah disudut matamu, akupun melangkah dengan tegapnya, cintaku berhamburan kesegala arah, dihembus angin yang berpusar di jiwamu. Kemudian adalah keliaranku juga yang tersesat di belantara jawaban, hingga kita tak lagi menukar rindu liwat bahasa tatapan yang nikmat. Bagaimana mengusir sunyi..?,dan dendam lama yang tak lerai, sementara kita terus dipacu waktu, kau tetap tegar mereguk citamu, hanya setitik doa putih, kugenggam erat-erat, buat mengusir dukaku yang dalam. Benarkah ada nasib yang memisah ..?jika belum tiba saatnya mengaku kalah. dimana letak bahagia, jika kau lempar hidupku ketempat asing, tak pernahkah cintaku menarik hatimu..?, jika ketulusannya justru menumbuhkan bencimu..! ..

*) satu-satunya dibuku tersebut ia menyebut nama kekasihnya itu dan dalam tulisan ini disalin inisialnya saja, untuk menunjukkan tiada seseorangpun lagi yang dituju dengan terbitnya tulisan ini.

Kemudian tulisan lanjutannya yang tercatat bertanggal 3 maret 1981, ia menulis : “Kemudian kitapun berpisah, barangkali untuk selamanya. keharusan ini kini telah menjadi kenyataan. Ah..., sayangnya, seperti adanya ketiadaan, kepergian inipun turut bisu..,dan apa yang dapat diceritakan tentang masa-masa itu ..? Setidak-tidaknya ia merupakan pengalaman batin, hanya hati yang patut bicara..! atau duka yang dalam kan menjadi saksi.., seandainya kasihpun turut sirna bersamanya, tapi begitu adalah tipuan pesona duka, karena hidup, memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar, dari hanya sekedarnya. Namun, jalan itu tidaklah mudah, bayangkan hal ini menimpa orang yang banyak mengalami kegagalan dan yang kali ini adalah sisa harapan yang masih ada. dimana yang satu inipun, ia harus lempar jauh-jauh......

Bukan aku tak mau..., mengingkari kebaikan yang ada didalamnya, barangkali ini hanya suara dari hati yang paling bawah. Tidak..! aku bahagia, aku benar-benar bahagia, perpisahan ini adalah suatu keharusan, keharusan yang kini t’lah menjadi suatu kenyataan. Hanya sayang, seperti awalnya, tak ada yang dapat dipegang... atau justru adalah suatu rahmat! yah... haruskah setiap rahasia terungkap ..., dan mengapa...?”

Itulah kalimat terakhir dalam catatan buku kumpulan sajak-sajak nya, tak pelak lagi cintanya berakhir bukan saja tanpa tercapai, bahkan ia tetap sebagai suatu rahasia yang tak pernah terungkap, tak terbaca, tak pernah terdengar, bahkan tak pernah dimengerti.

Lantas akankah seolah-olah itu semua tiada berarti apa-apa, tak berguna dan tak kan ada yang peduli, bahkan tak ada pengaruhnya sama sekali. Bak kata yang pernah diungkap sang gadis : haruskah kuncup ini layu sebelum berkembang yah..., nyatanya memang begitulah peristiwanya. Akhir kesudahan kisah cintanya, ia bawa kedalam lubuk hatinya yang paling dalam, liwat satu janji yang tersisa, ia ingin si gadis bahagia....... Sebab cinta itu t’lah layu, hancur terhujam ke perut bumi dan terpendam dilayar kenangan. Selamat berpisah kasih .., selamat menuai bahagia menyambut ceria pagi indah, menggapai fajar, sebab esok matahari baru kan menyambut si gadis dan membawanya terbang kecakrawala citanya.........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar