Waktu berpacu dengan cepat, seperti memacu angin
menyusuri jalur usia
seonggok tubuh yang letih
terlena dalam buaian cita dan angan-angan
seperti tidur
seperti dalam mimpi yang panjang
tetap dalam pesona duka
Dia tak pernah menghitung-hitung waktu
sekalipun dengan jari tangannya sendiri
dia merasakan malam seperti senja
dan merasakan pagi seperti siang hari
Dia tak mendengar gemuruh dunia
sekalipun dia berada ditengah-tengahnya
dia tidak diam, tapi juga tidak bergerak
dia tidak bisu, tapi juga tak berkata
Dihatinya penuh bunga dan duka
dia dapat menangis dan tertawa sekaligus
dia sering tertegun didepan kaca
dukanya telah tercermin diwajahnya
bunganya telah jatuh dilembah hati, dalam dan pekatnya
tak tercermin dalam langkah dan kata-katanya
Dia senang membisu dalam keramaian
dan bercerita dalam kesenyapan
dia sering tertidur dalam impian
dan terlena dalam tidurnya
Dia pernah bercerita tentang dukanya
tapi alam membisu dan tak perduli
dia namun tetap bercerita
sama tak pedulinya
dia pernah terjaga dalam impiannya
dan tertegun dalam tidurnya
tapi percuma
dia belum pernah mencoba bangkit
(26 Nop.78)
mungkin....., dia sedang jatuh cinta dan pasti....., dia takut menyatakannya (bagian tulisan yang dikeluarkan dari bait akhir sajak). Ia semakin menyadari kelemahan dan ketakberdayaan menghadapi pesona si gadis. Akankah ia mampu bangkit menjelang si gadis, mengiringi langkah dan gerak hidup kekasihnya itu..? Itulah pertanyaan yang selalu ada dalam benaknya, kadang ia berontak atas ketakberdayaannya dan kadang ia menyerah.......demikianlah ia bercerita tentang dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar