
ini dibuat untuk menyambut seorang teman yang spesial bernama dita,
semoga seringa kasih coment....he..e...e
tambah motivasi buat nana....
selamat menikmati ya....
Malam bertambah kelam
namun, tak juga tampak tanda fajar akan terbuka
dan aku makin merasa sepi
rindu dan terasing
terbaring nyenyak dalam pangkuan malam
dan esok
saat mentari membuka pagi
aku tak pernah dapat melihat
tangannya yang lembut membangunkan kehidupan
karena saat itu, aku t’lah lama hilang
bersama malam yang pergi entah kemana
Kata orang hidup ini adalah cinta
yang bersih dari keinginan dan nafsu
ku biarkan anganku menari-nari
dipucuk-pucuk cemara
sementara malam, terus merangkak ketepi
“kita t’lah terlanjur bersama
menanti-nanti fajar menutup malam
daun-daun cemara menutup bulan dimata,
tapi setelah dua putaran masa luput dari genggam
yakinlah aku, fajar yang kita nantikan
tidak pada matahari yang sama
sekalipun kau adalah matahari hidupku..
Udara dingin dan basah
tak jugakah aku berkemas..?
disaat semua akan bangkit..., untuk hidup
.... untuk cinta !
aku memilih diam bersama malam
biarkan aku merindu kisah-kisah lalu
atau pada cerita tentang pagi nan cerah
mengisi sisa yang tertinggal
(1.agus.79)
Ia semakin menyadari arti cintanya kepada si gadis, setiap kali hanya kenyataan seperti itu yang dihadapinya..., namun ia tak mungkin surut langkah lagi. Ia semakin tak peduli, cintanya penaka angin nan senantiasa ada, tapi entah dimana ......? tanpa harapan, belai kasih yang diharapkan......hanya ada cinta.... yah hanya itu miliknya yang paling berharga...!
Masih disini,
aku biasa sembunyi
dan selalu saja, tambah akrab, tambah tau
kepada tembok-tembok disini
aku biasa bercerita
dan dengan aman aku ungkap rahasia,
duka dan tangis yang aku sembunyikan
Sebuah kursi rotan, sebuah meja dan tongkat tua
aku tersadar
tapi menyenangkan untuk dikenang
sebab akhirnya ...., satu demi satu
berpuluh kesedihan ,kukalahkan
tertidur nyenyak
dan bermimpi tentang hari depan yang tak pasti
(agustus 1979)
Ia semakin tak peduli, akankah cintanya itu bersemi atau ia akan layu sebelum berkembang, ia bahkan tak pernah membayangkan yang lain kecuali bahwa ia cinta......., ia hanya jatuh cinta itu saja......!
Kumbang- kumbang kecil
menyelinap diantara bunga-bunga anganku
menatap pagi
bak petani menyandang cangkul dipundak
sebab bumi
dan sajak yang kupijak,
selalu saja, aku melihat wajahmu kembali
ketika tertawa dan senyum
kau pasti menyimpan duka
kau selalu saja tambah setia mendekapku
aku ingin kita aman bicara
dan leluasa mengeluarkan isi hati
tapi, selalu pula
aku ingin kau tak terbagi
iri... dan cemburu .....
aku harus berhenti mengenang mu
dan memandang hari lebih baik
Kumbang-kumbang kecil
menyelinap antara bunga-bunga mimpiku
menyambut pagi
bak petani mengayun cangkul
(agus.79)
Apakah ia akan dapati kebahagiaan atau kesengsaraan karena cintanya itu, ia tak punya pilihan apa-apa lagi, kecuali yang dia tau bahwa ia sedang mencinta.....
Benih yang dulu ditanam dari air susunya
dan kuncup oleh belaian tangannya
kini mencari dia
Ibu....!
aku kehilangan engkau yang telah lama hilang
Ibu sayang...,
Ibu tercinta...,
aku melihat wajahmu kembali bu..
aku jatuh cinta bu..
aku berharap
ia penuh seperti mu dulu
Namun itu tak mungkin
seperti juga kau bu..
(agustus 79)
Suatu saat ia rindu kepada ibunya yang t’lah lama tiada, sejak ia masih kecil. ia ingin tahu berapa kalikah ibunya menciumnya sebelum ia pergi tidur, atau membelai rambutnya dan pernahkah ibunya menyanyikan lagu agar ia nyenyak tidur...? Ia yakin bahwa ibunya tentu mencintai penuh dirinya...., ia ingin itu..., bahkan ia sangat butuh kasih sayang seperti itu..., adakah si gadis itu dapat penuh cintanya seperti ibunya dulu...?
Ada yang pasti, kasihku
sesuatu yang memaksa aku percaya
tapi...., aku tak tahu....?
figurmu..,
menjadi legenda yang akrab liwat hatiku
mengalir bersama darah,.. dan
menyatu dalam jiwa
dan..., apapun alasannya
barangkali dapat tidak
kau..
tetap tegak pada mimpi-mimpiku
(Agustus 1979)
Si gadis selalu hidup dalam jiwanya, mengalir bersama darah dan bergetar bersama detak jantungnya, ia t’lah tak bisa berpaling lagi bahkan ia tak mampu lagi menoleh... mukanya dihadapkan lurus kedepan, pesona si gadis yang semakin tak dikenalnya....semakin pudar dan semakin dalam tenggelam kelubuk hatinya yang paling dalam. Tak tercermin, membekukan kata dan langkahnya.....
Liwat celah rambutmu yang hitam
kubuka hari-hari dengan harapan yang berbunga-bunga
indah dan megah
membawaku terlena dalam peluk asmara
langit bertabur bintang
mirip wajahmu yang cantik cemerlang
dan bila ada angin datang mengusap wajahku
membuka jendela kamar-kamar mimpiku
seperti senyum yang sering kau lemparkan kepadaku
maka tahulah aku
sebagian hidupku telah kuserahkan untukmu
Aku cinta kepadamu
sebelum aku mengerti, apa yang dapat kuperbuat,
buat itu
dan hari demi hari berlalu
matahari membuka dan menutup hari
seperti angin menyentuh tubuh
seperti cinta membentuk peristiwa-peristiwa
dalam putaran masa yang berjalan
namun, yang bisa terlukis , hanya sebuah kisah yang tak sudah
memahat ukiran yang tak selesai di jiwa
goresan-goresan samar
dari cinta yang tak sampai
seperti mega hitam menutup langit
cinta setia, harapan dan mimpi indah
kini terjerembab kelembah yang jauh dan dalam
tak teraba, gelap dan kosong
hanya kesepian membuka keluasannya
yang tak bertepi...
dan dendam...
(tanpa tanggal))
yah... ia semakin jauh, semakin tak dikenal dan semakin asing........... juga bagi dirinya sendiri....
Kemarau panjang
membakar jiwa, padang-padang kering
ketika panas memenuhi dada
oleh dendam yang dibakar sepi, ah....
kau datang
kembangkan senyummu
purnama di atas tertawa
tiba-tiba terlonjak keakraban lama
dari sapamu terpetik lagu rinduku
yang lama, yang nyaman dan tenang
seperti hujan, datang menyirami pohon-pohon kering
sejuk..!
dan ada rasa lembut mengalir di jiwa ini
akan tetapi...,
kesejukan itu berlalu lebih cepat
bersama bayang-bayangmu yang menghilang dibalik tembok rumahmu
tertegun menatap kesendirian
masih terasa sejuk didada
purnama di atas mengejek
apa yang terjadi barusan
begitu mudahnya aku berubah
itu tak harus terjadi
seandainya aku dapat berkata
“lupakanlah aku”
maka, malam ini
gerimis datang membasuk kota yang luka
mengusir panas dan debu
bersimpuh
kutumpu segala harap... sebuah sajak renta di hadapanku..
ku buka jendela kamarku
biarkan angin dingin masuk
karena kesenyapannya, membasuh lukaku
namun, masihkah tersisa keberanian mengulang kembali
setelah kemarau kali ini.
(september 79)
Ketika ia berada dalam keterasingan dengan dirinya sendiri, sang gadis datang menjenguk hatinya....., mengajaknya berjalan mengikuti langkahnya....! masihkah tersisa kekuatan yang ia miliki... ?
Ketika tangan lembutmu , membuka tirai pagi
kegelapan malam terusir senyummu nan cerah
dan doa-doa yang sembunyi ditengah-tengah sepinya
kini menampakkan diri pada butir-butir embun
udara pagi yang segar
kebersihannya adalah obat segala duka
Selamat pagi Tuhanku..
mimpi-mimpi semalam
matahari dan bulan adalah perhitungan
yang mencatat waktu di garis kenangan
bagi kehidupan yang kau janjikan
Selamat pagi kasihku,
kicau burung di dahan mangga
adalah berita hati
seseorang menerima karuaniamu...
bagi cerita yang kan datang
Selamat pagi aku...
candangkanlah cita-cita mu
tanahmu adalah ladang padi
yang kan tersunting oleh angin didadamu
bagi bahagia yang kau dambakan
( 10 oktober 79)
Nyatanya ia hanya pandai bicara pada dirinya sendiri , peristiwanya persis seperti yang sudah-sudah, ia segera terdorong untuk bangkit menggapai si gadis, namun hasilnya ia kembali tak sampai seperti adanya ketiadaan, itulah cintanya pada sang gadis. Ketika tangan lembut si gadis menyentuh hatinya, ia terbangun dari tidur nyenyaknya dan ketika ia mengerti tentang pagi, tak ditemuinya si gadis ada disisinya....
.....................................*)
Pagi berkabutkan sepi
hawanya yang dingin
menghujam keseluruh tubuh
adalah kekerapan dari ketidak berdayaan
Pijar cahaya melintas
liwat kejauhan jarak
aku, makin diam tersangkut lara
sajak ku dari jiwa gelisah
membelah langit
mencari arti, makna tersirat
tapi..., kau tetap tak terpecahkan
(15 Oktober 1979)
Puisi tanpa judul, atau tak sanggup lagikah ia menangkap kata yang bisa mengungkap ketakberdayaannya. Setiap kali kegagalan membawa diri semakin jauh kedalam, cinta semakin terpendam jauh di lubuk hati, tak kuasa lagi menahannya.