Senin, 16 November 2009

blogcu.com/yinebiirgulnihal



ini dibuat untuk menyambut seorang teman yang spesial bernama dita,
semoga seringa kasih coment....he..e...e
tambah motivasi buat nana....
selamat menikmati ya....

Rabu, 23 September 2009

MUDIK

tunggu aku kembali kejakarta
seperti lagu Shela on Seven
wahhhhhhhhh
abis rutinitas mudik
akhirnya kembali ke Jakarta
siapa suruh ke Jakarta

Senin, 17 Agustus 2009

lagi sedih
sudah lama ga posting
kangen ga bisa nulis
mudah-mudahan hari esok
bisa posting lagi
terima kasih yang sudah mampir
mohon maaf posting ga ada yang baru



Jakarta, 17 Agustus 2009

Senin, 13 Juli 2009

time is running

hari ini begitu cepat
malam beranjak pagi,
pagi sambut siang,
siang jelang sore dan
sore pun kembali malam,

bertambahnya hari,
berkurang juga jatah hidup kita,
dulu masih anak anak,
beranjak dewasa terus menjadi tua,

teringat masa kecil yang tidak terlalu bahagia,
kan slalu teringat didalam jiwa,
jika diberi kesempatan pasti akan kupilih kembali kesana,
kemasa masih belum akhir baliq.

Jumat, 10 Juli 2009

ya rabbku

ya rabbku
ampunilah dosa hambamu
ampuni dosa yang kusadari maupun yang tak kusadari
hambamu yang hina ini memohon ampunanmu
kabulkanlah doaku

malam yang sepi
10 Juli 2009

Kamis, 09 Juli 2009

Zero

kosong,
dalam hati bohong,
dikarenakan bengong,
diam seperti tong kosong,

bibir seperti kaku,
pikiran tak menentu,
hanya waktu yang akan memberitahu
apa yang terjadi dalam diriku,

Selasa, 07 Juli 2009

8 Juli 2009

Jakarta, 7 Juli 2009

besok hari tanggal 8 Juli 2008,
sebagai Warga Negara Indonesia akan Nyontreng,
daftar pemilih tetap (DPT) sudah ada,
tinggal besok datang ke TPS,
untuk pemilihan RI 1 dan RI 2,

jadi teringat lagu
"Manusia Setengah Dewa"
Iwan Fals ( Album Manusia Setengah Dewa 2004 )

Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini
Suara yang keluar dari dalam goa
Goa yang penuh lumut kebosanan

Walau hidup adalah permainan
Walau hidup adalah hiburan
Tetapi kami tak mau dipermainkan
Dan kami juga bukan hiburan

Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa

Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau

Tegakkan hukum setegak tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa

Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau

Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Tegakkan hukum setegak tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa

Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini

(neh lirik lagu n2 posting dari IWAN FALS online)


jangan sampai lupa semuanya
besok Nyontreng,
datang ke TPS,

Senin, 06 Juli 2009

dini hari....

Dini hari jelang pagi hari,
dipandang dari sudut mata yang belum terpejamkan,
melihat mendung menyelimuti langit,
berwarna hitam dan putih,
sinar lampu menggantikan bintang,
terasa begitu indah saat disiram air,
ooh....pagi segera datang,
mungkinkah akan datang pelangi setelah turun hujan.

Jakarta, 6-7-2009
dari diatas atap gedung

Jumat, 03 Juli 2009

Question

kebahagiaan terasa begitu hampa,
kesedihan begitu nyata,
dunia dan seisinya bagai tertawa,
salah satu manusia,
berlumuran dosa,

cinta akankah menjadi sebuah dosa,
jika mencintaimu kukorbankan semua,
jiwa,
harta,
atau bahkan nyawa,

kutanyakan satu kata,
"apakah aku berdosa"

Jakarta hari kemarin sampai hari ini tanggal 3 Juli 2009
jam 12 jelang pagi tak kutemukan jawaban.

Rabu, 01 Juli 2009

PRAKATA

bulan juli ini akan menulis kejadian sehari hari,
mudah mudahan sampai bulan berikutnya.
mohon do'a nya semoga bisa membagi pengalaman dan memulai sesuatu"......"

Senin, 29 Juni 2009

WK

untuk WK yang ada dimedan semoga bahagia selalu n hanya ini yang bisa n2 berikan"...

*doa n2 untuk dirimu semoga succes, tambah cantik, cinta keluarga n lebih penting segera menemukan pendamping hidup coz tambah usiamu berkurang juga jatah hidupmu*

Senin, 22 Juni 2009

Jakarta 482


Selamat Ulang Tahun Kota Jakarta ke 482

Minggu, 21 Juni 2009

Smells Like Teen Spirit

Load up on guns and bring your friends
It's fun to lose and to pretend
She's over bored and self assured
Oh no, I know a dirty word

Hello, hello, hello, how low? (x3)
Hello, hello, hello!

With the lights out, it's less dangerous
Here we are now, entertain us
I feel stupid and contagious
Here we are now, entertain us
A mulatto
An albino
A mosquito
My libido
Yay! (x3)

I'm worse at what I do best
And for this gift I feel blessed
Our little group has always been
And always will until the end

Hello, hello, hello, how low? (x3)
Hello, hello, hello!

With the lights out, it's less dangerous
Here we are now, entertain us
I feel stupid and contagious
Here we are now, entertain us
A mulatto
An albino
A mosquito
My libido
Yay! (x3)

And I forget just why I taste
Oh yeah, I guess it makes me smile
I found it hard, it's hard to find
Oh well, whatever, nevermind

Hello, hello, hello, how low? (x3)
Hello, hello, hello!

With the lights out, it's less dangerous
Here we are now, entertain us
I feel stupid and contagious
Here we are now, entertain us
A mulatto
An albino
A mosquito
My libido

A denial! (x9)

"Who I am"

blogcu.com/yinebiirgulnihal

start writing again on 21 June 2009
with the title "Who I am"

Senin, 08 Juni 2009

PEMBUKA KATA

Ada suatu saat dimana setiap anak manusia merasakan sungguh-sungguh mencintai seseorang dan hal itu sebenarnya adalah hal yang biasa atau kalau tidak dapat dikatakan sebagai kodrat setiap diri anak manusia. Hanya saja yang membedakan, antar masing-masing diri anak manusia tersebut adalah bagaimanakah kisah cintanya itu berlangsung, bagaimanakah ia menikmati saat-saat dimana seluruh potensi kemanusiaannya dikerahkan untuk orang yang dicintainya itu. Cita-cita dan angannya, perjuangan untuk mencapainya serta semua yang dia kerahkan sekuat tenaganya itu, membuahkan hasilnya.

Cinta seperti itu harus segera tegas dibatasi. Pertama ia tidak terdorong hawa nafsu. Kedua, bukan keinginan untuk memiliki semata, tapi segala kebaikan atau kebahagiaan untuk sang kekasih. Ketiga, hanya bisa lebih dipahami melalui hati nurani (emosi), sebab kadangkala sulit terjangkau oleh pikiran jernih dan sehat. Itu adalah cinta yang sesungguhnya, murni dan sejati. Cinta sedemikian itu umumnya terjadi sekali dan tak mungkin lagi dapat berulang selama hidup seseorang.

Kumpulan puisi ini bersumber dari teks asli catatan tangan penulisnya, adalah gambaran ungkapan hati penulis saat mencintai seseorang gadis pujaan hatinya. Liwat lirik-lirik kata, ia bongkar isi cermin dadanya yang terbakar bara api cinta, karena cinta yang mengendap di jiwa itu telah pula membekukan langkah dan kata-katanya. Bahkan puisi ini pun tak pernah sampai kepada yang dituju, tak pernah dibaca kecuali oleh pembuatnya sendiri, tertutup rapat dalam buku catatan, tak pernah terungkap keluar dan dengan alasan itulah kemudian penulisnya memberi judul kumpulan puisinya sebagai “Berbongkah Sepi”.

Kisahnya disekitar tahun 1977, kurang lebih 25 tahun yang lalu. Tapi sesungguhnyalah tidak ada yang istimewa atau luar biasa, apalagi pelajaran yang berharga yang dapat dipetik dari karya ini, sungguh ! bahkan jangan yang ada yang ditiru didalamnya. Jikapun ada yang bisa dinikmati, adalah gambaran dari cinta dalam bentuknya yang tak bisa dimengerti, tak bisa dipahami, kecuali oleh pemiliknya sendiri. Keseluruhan puisi ini adalah ungkapan suasana hati, ketika lidahnya menjadi kelu tak mampu bicara liwat bahasa lisannya sendiri dan langkahnya yang tersendat kaku karena menahan berat isi dada. Ia hanya dapat menulis dalam kebisuannya, inilah cinta yang berbeda dengan cinta umumnya, seperti yang pernah ia gambarkan dalam salah satu puisinya “seperti adanya ketiadan.. sebuah ciuman yang menghangatkan dan sirna dipagi buta.. atau keseluruhan hidup ini adalah mimpi.. dan terjaga malam ini, inikah arti sebuah cinta sekolah dasar”. Liwat puisinya itu ia ungkapkan kisah cintanya persis sebagai suatu mimpi saat mencium kekasihnya dan ketika terjaga dari mimpi itu ia tak menemukan sang kekasih, ia hanya dapati dirinya dengan kesendiriannya, itulah kehidupan yang dijalaninya saat itu. Ia sampai demikian itu karena begitu terpana melihat sosok gadis sang kekasihnya, keterpanaan itu begitu dalam sebagaimana yang ia ungkapkan “Intan kemilau mirip matamu.. sedang hatimu memancar cahaya merah.. bak permata”, si gadis ia temui sebagai seseorang yang memiliki keteguhan hati yang keras, semangat yang kuat dalam meraih cita-cita. Ia bangga karenanya, ia bangga dengan cintanya tapi seperti ungkapnya: “nikmat itu terlalu nyaman dihatiku.. merebut semua langkah dan kata-kataku.. jangan salahkan kebisuanku, jangan pula salahkan langkahku”. Sementara ia melihat dirinya dalam kelemahan dan kepapaan, namun ia yakin bahwa suatu saat ia akan sampai kepada sigadis berjalan bersama mengiringi langkah si gadis menuju cita-cita. ia coba gambarkan keadaan dirinya sendiri, ”walau rona diri hanya sebuah bayangan samar kini,.. tak dimengerti,... namun dibaliknya bertahta budaya insani... bak potret alam menjelang fajar... begitu dingin dan kaku... tapi dalam pelukannyalah sang surya terlena”. Ia membela diri dibalik ketidak berdayaannya mengungkap cinta dan menangkap isyarat balasan cinta dari si gadis. Ia sadar dan sangat mengerti bahwa sumber kekuatan dirinya adalah pada diri sang gadis “aku kan terbang keangkasa.. mereguk anggur merah.. sementara kau yang kucinta.. mengiringi laguku.. karena tanpa kau.. aku adalah tonggak yang terpaku.. aku adalah layang-layang yang putus diangkasa.. menurut angin aku kan condong” sementara itu ia merasa bahwa liwat gadis itulah ia akan hidup dengan penuh gairah, berjuang menghadapi tantangan dalam menyongsong cita-cita meraih bahagia “Alam kujabat dari tanganmu.. bintang kugenggam dari matamu.. anggur putih kuhirup dari dadamu dan darah merahku menyusuri bumi ini.. mengalir lembut di hatimu” Kemudian ia melihat bahwa ketakberdayaannya itu telah membuat kesal dan kecewa si gadis, sehingga si gadis seakan mau berlari menjauhi dirinya, ia ditinggal sendiri dengan lamunannya “Jangan tinggalkan aku kasih.. aku takut sendiri di kamar ini.. aku takut melihat buku-buku dihadapanku.. aku enggan melihat tulisan tanganku sendiri.. kamar ini telah sesak oleh bayanganmu.. ranjang ini telah padat oleh pertemuan-pertemuan denganmu” Si gadis tetap tak peduli, ditinggalkannya cintanya dibelakang ia menatap kedepan, nun jauh disana Ibu Pertiwi menanti bakti diri. Tinggallah ia kini merenungi cintanya pada si gadis, terlena dalam buaian angan, tak bisa meninggalkan pesona dukanya. Maka setelah keletihannya yang panjang dan perjuangan menuju cita-cita yang tak sampai, ia ingin berhenti dititik ini, dibatas langkahnya “Sekarang aku diam dan membisu .. semuanya bagiku adalah semu.. lagumu bukanlah laguku.. langkahmu ke timur, aku ketenggara..tinggalkan aku dititik ini.. dibatas langkahku...” Akan dapatkah ia melepaskan dirinya dari kungkungan cinta kepada si gadis, nyatanya ia merasa si gadis telah hilang dari sisinya, mengapa..? ia bertanya pada dirinya sendiri “inikah cinta.. mana tubuhmu.. yang dirindu setiap lembar buluku, sejauh itukah atas langkahku” ia bertanya kemanakah si gadis kini dan kemanakah ia akan membawa tubuh letihnya itu..? Suatu saat ia bertemu seseorang gadis lain ia berkata “aku mesra.., kau mau.. sunguh-sungguh..! lantas kita berpisah.. kau menatap dalam.. mataku jalang.. kapan jumpa lagi”. akan sanggupkah ia..... ? Iapun mulai menengok dunia di luar dirinya, ketika ia mendengar WS rendra membaca puisi di kampus kuning rawamangun, ia tergugah membuat puisi tentang kezaliman “tangkaplah satu rendra... seribu yang menyerupainya muncul serentak... karena ia adalah sebuah cermin... dari nafas kebebasan di negeri ini“ kemudian dia melanjutkan dengan satu puisi lagi tentang kezaliman yang dihadangnya dengan kekuasaan Tuhan “mata kami tidak buta, hati kami tidak lupa... melihat kekuasaan yang bertahta di atas langit... sampai keperut bumi yang kami pijak” nyatanya hanya dua sajak itu yang ia bisa buat, sebab ia kembali kepada pelarian dirinya, kali ini ia berjumpa dengan gadis lain dari Palembang, masih familinya juga dan ia pun mencoba merajut kasih dengan sikecil dari Palembang itu. Namun itupun akhirnya tak sampai, karena pada akhirnya ia tetap menoleh pada gadis yang menjadi pujaan hatinya, ia ceritakan kisah cintanya itu kepada si kecil dari Palembang, tentang dunia cintanya yang yang begitu dalam. Ketika tiba-tiba si gadis pujaan hatinya itu datang menjenguk cintanya, maka ia pun kembali kedunia cintanya dan terus bermimpi menyambut cinta si gadis, sampai akhirnya ia tersadar cinta di dadanya itu adal;ah fatamorgana belaka, seperti ketika ia membuat keputusan akhir: dan jika esok ... saat mentari membuka pagi.. aku tak pernah melihat.. tangannya yang lembut membangunkan kehidupan.. karena saat itu, aku t’lah lama hilang.. bersama malam yang pergi entah kemana.

Memang demikianlahlah akhir perjalananya cintanya, ia tak pernah dapat menyampaikan isi hatinya kepada si gadis dan bahkan ia rela jika si gadis kemudian berpaling dari dirinya. Kemudian mereka memilih jalan hidup sendiri-sendiri.

Akhirnya penulis ingin menyampaikan bahwa untuk kepentingan sisi keindahan dan kekuatan bahasa suatu puisi, menurut ukuran perasaan penulis sendiri, kumpulan puisi ini disajikan setelah ada sedikit edit dari teks aslinya, sekalipun tetap dijaga agar tidak memalingkan atau merubah maknanya. Disamping itu cara penyajiannya diurut sesuai waktu pembuatannya, agar lebih dapat memberikan gambaran utuh perjalanan kisahnya, disamping juga dimaksudkan memudahkan memahami makna yang terkandung didalamnya.

Jika kemudian puisi ini dipublikasikan keluar, alasannya adalah semata karena penulis menangkap padatnya ungkapan ketulusan cinta dalam kumpulan puisi tersebut, namun apakah itu benar demikian, silahkan pembaca menangkapnya sendiri. Puisi ini sejak semula dibuatnya tidak sekalipun menyebut jelas nama yang dimaksud didalamnya, sehingga setelah 25 tahun masa berlalu, tidak ada lagi yang dituju khusus didalamnya, tinggallah ia kini sebagai sebuah karya diakui atau tidak, tapi memang demikianlah anggapan dan keinginan penulisnya sendiri.

Jakarta, 30 September 2002

“ Berbongkah Sepi I ” MALAM YANG SUNYI

Aku tak ingin pergi sekarang
Ketempat orang-orang berkumpul
Sekalipun katanya untuk bermaaf-maafan
Kurasa tidak
Ada sesuatu yang tak ingin kulihat lagi
Seperti yang kerap kudapati di pertemuan seperti itu
Saperti dalam pameran
Dia memang cantik hingga menarik
Mereka yang ada disana
ada yang datang, tersenyum dan menegurnya
Lantas dia berada ditengah-tengah mereka
(seperti yang dulu-dulu)
tetap acuh, bangga dan memikat
(tapi ku tahu dia tak pernah terpikat)
Sementara itu
aku membisu
(tapi tetap menolehnya)
Seharusnya aku berada disampingnya
dan menggenggam tangannya
namun tak pernah dapat
Malam ini aku tak mencobanya
Aku tak datang, tapi terasa membayang
Sunyi dan hampa
Hidup ini memang layak sunyi untukku
(akhir sep.78)

Ini adalah Puisi pertama, dibuat pada tanggal 30 september 1978. Secara pasti tak terdapat catatan kapan perasaan cinta itu mulai tumbuh, pernah membuat buku catatan harian, tapi buku pertama yang dibuat itu tidak ditemukan sampai asaat ini. Pada puisi pertama ini, menceritakan malam Halal bi Halal Karang Taruna di Kelurahan tempat tinggal penulis, ia sendiri tidak datang pada acara itu, tapi membuat puisi saat acara berlangsung, sebab seseorang gadis yang ia sukai hadir pada acara itu. Suasana dalam kesendiriannya itulah yang mendorong ia membuat sebuah puisi, kemudian setelahnya tak tercegah lagi dan tanpa disadari dorongan hatinya untuk membuat puisi-puisi selanjutnya.

TENTANG MU

Telah kau langkahkan kakimu, menerjang badai
menentang gelombang
menahan arus yang hampir memaksa
melaju tanpa harapan
Tanpa belai
kasih yang diharapkan
titik-titik embun direlung hati
penyegar taman sari mawar mewangi
Sementara itu
hujan dan angin terus melandamu
bisik-bisik rayuan nyanyian malam
merona setiap lembar bulu ditubuhmu
Pelangi senja tersenyum
menanti kau datang
sesetia hatimu
Alam menyambut mesra suara hatimu
gelombang badai tunduk malu menatapmu
sampai anginpun enggan bersentuh denganmu
Dendangmu membuat setiap mulut membisu
Kau buat langkahmu membatu
tapak kakimu terkesan disetiap sanubari
hinga mereka berkata
Intan kemilau mirip matamu
sedang hatimu memancar cahaya merah
bak permata
(awal Nop.78)
Jika ditilik dari puisi ini, dapat dipahami bahwa penulis telah cukup lama memendam perasaan cinta kepada sang gadis. Sebab liwat puisi ini, ia telah dapat bicara tentang diri sang kekasih. Ia tahu dan sangat mengerti bahwa sang gadis menyambut cintanya dan liwat kacamata hatinya, ia lukiskan gejolak hasrat sang kekasih. Namun sebaliknya keterpanaannya kepada sang kekasih menyebabkan ia terpedaya, terperangkap dalam nuansa pribadi sang gadis. Ia telah menangkap kelemahannya dalam memberikan ungkapan cinta kepada si gadis yang sangat dipujanya itu, yakni hanya liwat ungkapan kata-kata yang mampu ditulisnya. Jadi kenyataan yang ada pada dirinya sendiri itulah yang menjadikan ia menulis puisi-puisi, sebab kenyataannya ia tak juga sanggup menyampaikan isi hatinya liwat lisannya langsung kepada sang gadis.

UNTUK KESEKIAN KALINYA KUHARAP KAU BERSABAR

Kasih, maafkan aku
kali ini bukan karena aku tidak mampu
atau takut dan tidak pula karena malu
tapi, karena keindahan
percayalah hanya itu
yang lain telah kubuang jauh-jauh
Hidup ini penuh gairah
aku mengerti...., akupun seperti kau
digoda nyanyian alam, sendu merasuk kalbu
terlalu dalam, nikmat dan sangat indahnya
hatiku tidak berpalsu
Namun...,
nikmat itu terlalu nyaman dihatiku
merebut semua langkah dan kata-kataku
jangan salahkan kebisuanku
jangan pula salahkan langkahku
langit membiru indah
udara dini hari terasa sejuk
nyanyian alam melambung tinggi
tetapi sayang...
ada sedikit penyesalan
Kau, tak mau turut menikmatinya
hingga hati ini kembali bersedih
Bersabarlah sayang, akan aku
aku adalah orang yang paling lambat
apalagi membayangkan akan mendapatkan belaian
semua perasaanku bersatu akan menerimanya
(15 Nop.78)

Gagal meraih peluang, bak tentara yang berhenti sebelum tiba dimedan perang, kemudian merenung tentang peperangan itu sendiri. “ia mencintai karena itu ia hidup atau ia hidup karenanya ia mencintai” Berlindung dibawah panji kepasrahan, ketakberdayaan. Aku tau, aku mengerti, tapi apa kata hatiku : jangan salahkan kebisuanku, jangan salahkan langkahku.......... yah.. demikianlah kenyataannya. Ia begitu terpana pada sang kekasih sehingga membekukan langkah dan kata-katanya.

IMPIAN DAN HARAPAN SEUSAI KENYATAAN

Waktu berpacu tanpa peduli
sedang matahari dan angin senja membisu
tak berganti rupa, seperti juga bintang-bintang diangkasa
atau berkata “ hari sudah kian larut”
Langit masih biru, seperti hatiku
senyumku masih ada, dibalik kabut hati
ah... waktu itu sungguh terlalu
dibiarkannya aku sendiri dengan lamunan
Aku tak mau seperti layang-layang yang kalah
dibawa oleh angin ke samudra
jatuh dibadai
dan tenggelam kedasar
Aku bukannya mencari permata
atau kemilaunya mawar harum
hanya setitik embun di ruang sunyi
menghimbau teratai mekar di danau hati
Hari-hari yang lalu, telah benar-benar berlalu
sedang hati ini masih dahaga
seperti menanti
titik-titik air selera menetes di sela bibir yang kaku
Mata memandang hampa dan hati ?
siapa yang menjadi temanku ?
dengan siapa aku berjalan selama ini ?
dendang lagu ini bukan laguku
Nyanyianku mengalun dilembah sepi
hanya detak jantungku sendiri yang mengiringinya
merdu merasuk sukma
bahkan telingaku sendiri tak mendengarnya
Seruling Rumi dan petikan kecapi Iqbal
menyediakan anggur merah yang segar
mengalir lembut di sungai hatiku
darah merahku belum menyuburi bumi ini
dan mawar di taman sari hatimu
Aku masih berharap
waktu mau menemaniku
hingga usia ini tak lagi sepi
biar teratai mekar di danau hatiku
Aku ingin bernyanyi
biar matahari dan angin senja mendengarnya
biar darah merahku mengalir di bumi ini
menyuburi tanaman di Taman sari hatimu
menghimbau mawar mewangi
Aku kan terbang keangkasa
mereguk anggur merah
sementara kau yang kucinta
mengiringi laguku
karena tanpa kau
aku adalah tonggak yang terpaku
aku adalah layang-layang yang putus diangkasa
menurut angin aku kan condong
Dengarkanlah nyanyianku ini
iringi dengan kelembutan belaianmu
biar matahari kan iri
biarkan angin kan merindu
biarkan mereka kan membisu
bersama kita melambung tinggi
mencapai rembulan mengelilingi bintang bintang
agar tak bermalu dihadapan nabi nanti
di hari yang penuh cemas dan takut
Waktu-waktu berubah menjadi madu
sariku dan sarimu kan berpadu
menghimbau teratai mekar mewangi
harum semerbak menyemarakkan alam
Usia kan bertambah muda, menentang waktu
ghairah hidup melampaui gelombang samudra
mewarnai kehidupan kita nan indah
menanti panggilan selesai menjalankan tugas
Alam telah kujabat dari tanganmu
bintang kugenggam dari matamu
anggur putih kuhirup dari dadamu
dan darah merahku menyusuri bumi ini
mengalir lembut di hatimu
cemerlang warna Illahi dari dadaku
(20.Nop.78)

Ia meletakkan kekuatan hidupnya pada cintanya, ia tahu bahwa sang gadislah sumber kekuatan itu, ia merasa tak memiliki apa-apa lagi kecuali cinta itu sendiri, ia berharap kelak keluar manjadi pemenang dan musuhnya adalah dirinya sendiri.
Letak kekuatan puisi ini pada emosional saat membuatnya, kekuatan cinta kepada seseorang yang amat dirindukan itu, menjelma dalam bentuk harapan, impian setelah menyadari kenyataan yang dialami saat itu.
Keberaniannya mengungkap unsur-unsur cinta yg paling dalam tanpa beban : “alam kujabat dari tanganmu, bintang kugenggam dari matamu, anggur putih kuhirup dari dadamu” sebab kesungguhan dan ketulusan hatinya yang terbebas dari keinginan-keinginan lainnya, namun dalam situasi keterasingannya dengan kenyataan dihadapannya.

DIKESUNYIAN YANG MENAKUTKAN

Kasih...,
jangan tinggalkan aku
aku takut sendiri, ditaman yang kering ini
di malam pekat dan dingin begini
suara-suara itu, tak mau lagi aku mendengarnya
bunyi jangkrik dan desah nafasku sendiri
Kasih...,
jangan tinggalkan aku
aku takut sendiri di kamar ini
aku takut melihat buku-buku dihadapanku
aku enggan melihat tulisan tanganku sendiri
kamar ini telah sesak oleh bayanganmu
ranjang ini telah padat oleh pertemuan-pertemuan denganmu
Kasih...,
jangan tinggalkan aku sendiri
aku takut digoda sunyi
genggamlah aku dalam tangamu
tuntunlah aku dalam pelukanmu
hingga hilang sirna kesenyapan ini
biarkan aku terlena dalam pangkuanmu
sambil membisikan deritaku
Kasih...,
peluklah aku dan jangan kau lepaskan
belailah rambutku dan tubuh yang lelah ini
penaka angin senja membiakkan putik bunga
teratai kan mekar, hijau kemilau
agar bahagia hati ini
memancar sinar surya dari mataku
(23 nopember 1979)

Seperti sajak sebelumnya, puisi inipun menggambarkan suasana hati yang terus gundah gulana, tak berdaya, mengharap cinta datang sebagai suatu karunia yang ia yakini sebagai kekuatan hidupnya.

DIAM

Waktu berpacu dengan cepat, seperti memacu angin
menyusuri jalur usia
seonggok tubuh yang letih
terlena dalam buaian cita dan angan-angan
seperti tidur
seperti dalam mimpi yang panjang
tetap dalam pesona duka
Dia tak pernah menghitung-hitung waktu
sekalipun dengan jari tangannya sendiri
dia merasakan malam seperti senja
dan merasakan pagi seperti siang hari
Dia tak mendengar gemuruh dunia
sekalipun dia berada ditengah-tengahnya
dia tidak diam, tapi juga tidak bergerak
dia tidak bisu, tapi juga tak berkata
Dihatinya penuh bunga dan duka
dia dapat menangis dan tertawa sekaligus
dia sering tertegun didepan kaca
dukanya telah tercermin diwajahnya
bunganya telah jatuh dilembah hati, dalam dan pekatnya
tak tercermin dalam langkah dan kata-katanya
Dia senang membisu dalam keramaian
dan bercerita dalam kesenyapan
dia sering tertidur dalam impian
dan terlena dalam tidurnya
Dia pernah bercerita tentang dukanya
tapi alam membisu dan tak perduli
dia namun tetap bercerita
sama tak pedulinya
dia pernah terjaga dalam impiannya
dan tertegun dalam tidurnya
tapi percuma
dia belum pernah mencoba bangkit
(26 Nop.78)

mungkin....., dia sedang jatuh cinta dan pasti....., dia takut menyatakannya (bagian tulisan yang dikeluarkan dari bait akhir sajak). Ia semakin menyadari kelemahan dan ketakberdayaan menghadapi pesona si gadis. Akankah ia mampu bangkit menjelang si gadis, mengiringi langkah dan gerak hidup kekasihnya itu..? Itulah pertanyaan yang selalu ada dalam benaknya, kadang ia berontak atas ketakberdayaannya dan kadang ia menyerah.......demikianlah ia bercerita tentang dirinya sendiri.

KEKASIH, KUSAMPAIKAN KEPADAMU SEBUAH SAJAK YANG TELAH SAMPAI PADA BENTUKNYA, BUAH DARI KELETIHAN YANG PANJANG DAN PERJUANGAN MENUJU CITA-CITA YANG TA

Kekasih....,
aku mendengar nyanyianmu
aku tau kemana langkahmu menuju
lagumu menggema ditebing hatiku
tapak kakimu membekas dalam jiwaku
aku bahagia...., bangga....,
dan
tetapi,
tebing itu terlalu tinggi
lembah ini terlalu dalam
aku tak dapat mengiringi lagumu dan derap langkahmu
betapa sedih dan dukanya aku
Aku mencoba bernyanyi
laguku sumbang, kau tak mendengarnya
aku melangkah
kau selalu nampak jauh
dari bawah kau kupandang
disaat-saat aku tersungkur lemas
kau berseru “kemarilah”
kau berlambai “ayolah”
Disaat-saat tanganmu hampir kugenggam
didepan jalan tebing terjal kembali
kau ada disana
dan aku kembali tersungkur kebawah
mulai lagi dan merangkak kembali
kini suaramu semakin parau, hampir tak terdengar
langkah kakimu makin menjauh
makin dalam tenggelam dilembah hatiku
Sekarang aku diam dan membisu
semuanya bagiku adalah semu
lagumu bukanlah laguku
langkahmu menuju timur, aku ketenggara
tinggalkan aku dititik ini
dibatas langkahku
biarkan aku ketenggara menjauhi sang surya
teruskan langkahmu ke timur
usah kau berpaling ketenggara
walau sesaat juga
pelangi senja menanti datangmu
Disinilah kita berpisah dengan atau tanpa kata
impian kita hanya semusim
tanpa mawar dan teratai mekar dan mewangi
rindu...? ku bawa ketenggara ke dalam samudra
kau bawa ke Timur dan sirna oleh panas surya
kasih...? kan lenyap
oleh kicauan burung menyambut mentari
seperti embun kemilau di hari terakhir
kan tenggelam oleh badai samudra
seperti perahu sang petualang
Cinta antara kita
ditentang oleh alam yang baik hati ini
air mataku penaka embun kemilau
kan hilang sirna
menentang badai gelombang di samudra luas
ketenggara dan terus ketenggara
mengemudi diri, melawan arus dan topan membadai
mencari yang tersembunyi..., yang asli
membuang yang melekat...., yang palsu
Kekasih...,
untuk terakhir “selamat berpisah “
angin kan membisikan sesuatu kepadamu
bulanpun akan memberikan sinarnya kepadamu
sang surya menanti datangmu, dan ..
kau akan memaafkan kesalahanku
Semoga jalan yang akan kita tempuh
di redhoi oleh Allah SWT
(27 nopember 1978)

Sebuah sajak yang telah sampai dan tiba kepada wujudnya yang asli, kesadaran yang paling dalam dan keberanian yang paling tangguh mengakui kelemahan diri dan tak ingin mengajak si gadis yang dicintai terlibat dalam dunianya yang penuh misteri dan tak bisa dimengerti.
Sayangnya sajak ini tak pernah sampai, sehingga kelak akan terulang kembali suasana seperti ini. Ia telah sampai kepada kepasrahan sejati, tak diingkarinya lagi ketakberdayaannya menghadapi si Gadis, ia rela berpisah karena itulah yang menurutnya terbaik buat sang gadis.

YANG HILANG

Dipintu terakhirpun
tidak mungkin
tidak karena jauhnya
hanya tidak mungkin
dan....
tiba-tiba aku bertanya
inikah cinta..?
mana tubuhmu..?
yang dirindu setiap lembar buluku
sejauh itukah atas langkahku
pesonamu tak membantu
mengapa dengan cinta ada
hanya penyesalan sebagai bukti
(des.78)

Kembali kelemahan itu telah mencapai titik kepasrahan, ada sikap pemberontakan dan perlawanan terhadap kenyataan. Ingin lari dari cinta yang telah mengukungnya selama ini............, tapi ia tahu bahwa ia tak pernah mungkin membawa cintanya keluar, melainkan membawanya masuk kedalam lubuk hati yang paling dalam, paling tak terdengar dan paling tak bisa dimengerti lagi.

KEMBALI

Kau datang seolah tahu aku lagi sepi
lagumu mengingatkan pada yang dulu
kau mengajak
dan kitapun bermain
aku mesra..., kau mau !
sunguh-sungguh ...?
lantas kita berpisah
kau menatap dalam
mataku jalang
kapan jumpa lagi .
(desember 1978)

Pemberontakan pertama, ia berusaha keluar sebagai pencarian diri yang lebih sederhana, lebih jelas tanpa banyak makna, tanpa banyak berpikir tentang hidup, apa adanya berjalan mengikuti gugatan hati. tak peduli ....

SAHABAT PENA

Tiba siang, adiku berkata
ada surat
dari mana ? : palembang
Siapa ..? : Susie S.
Tak kenal
lalu kubaca
salam perkenalan
muda dan polos ia
melihat fotoku dari temannya
tertarik
berbisik : mari bersahabat!
Ah ada lagi
aku senang !
kukecup sampul biru
ada teman untuk pena
ada gadis untuk rayu
tunggu !
penaku perayu !
hati-hati
aku mau jalang !
(desember 1978)

Demikian juga dengan puisi yang satu ini, ketika ada surat dari seseorang di palembang, timbul keinginan lari ..... Dua puisi terkahir ini berisi hal yang yang sama, pemberontakan mencari apa saja yang bisa dijumpai keinginan hati. Tapi kemudian bisakah ia berlari meninggalkan cinta pada si gadis ? setelahnya ia sadar tak ada tempat untuk dia lari keluar.....Si gadis tetap hidup dalam semangatnya yang lemah hampir padam itu.

LAGU DALAM SEPI I

Api cinta yang membara
tertutup salju dipuncaknya
hingga tampak dingin dan beku
sedang kesadaran berada dipuncaknya
Deburan keras menerpa tepi karang
hembusan angin terbentur gunung angkuh
berulang kali kesalahan
tertunduk menatap lemah diri
Datang-datanglah petaka itu
sebelum badan ini susut menanti datangmu
hidup.., tak indah oleh gairah palsu
namun kekerapan derita adalah bahagia juga
(14 Jan.79)

LAGU DALAM SEPI II

Tidak terungkap kata dibathinku
menembus awanmu
hingga untuk sesuatu yang ada
bersembunyi sunyi
Adakah kau seperti aku juga..?
seperti ketika kau berkata
“ haruskah kuncup ini layu sebelum dia berkembang?”
atau ketika kau berkata
“aku bertambah kurus, pucat?”
atau senyum mu kah ...?
(yang semuanya berlangsung dalam sepi)
Atau akankah kunamakan kebisuan ini
“suatu kesetiaan”
sedang si bisu sekalipun butuh kawan
di waktu-waktu yang tak pernah ada
kenyataan, hanyalah berupa kesangsian
dan pura-pura belaka
atau....,
Akankah kunamakan ketakutan ini sebagai
“pengorbanan suci”
sedang nafsumu adalah sumber deritanya
dari waktu-waktu yang pernah ada
“kau adalah korban nasibmu”
(7 Mar.79)

Ia tetap tak bisa melepaskan diri dari belenggu cintanya sendiri, ia masih bercerita tentang diri dan kenyataan yang dihadapi, kisah cintanya yang tak pernah terwujud, ketiadaan keberanian menyatakan perasaan hati kepada si gadis pujaan hatinya itu, yang sangat dirindu oleh setiap lembar bulu di tubuhnya. Akhirnya ia mengakui nya....inikah arti cinta sekolah dasar.

SEBUAH CINTA SEKOLAH DASAR

Dikala angin menyentuhku perlahan
dan bunga-bunga menjadi duri yang menusuk perih sisa-sisa mimpi
anginpun datang kembali beku
air mataku mengembuni sebuah wajah
meniadakan kantuk dari mata luka
Wahai kau yang penaka apiku
panasmu membekukan kutub mimpiku
hingga tubuh ini berpeluh
dingin dan resah
Pesonamu makin tak terjangkau
begitu dingin merontokkan bunga-bungaku
hingga hidup ini berarti duka
atau mati dalam lupa
Seperti adanya ketiadaan
sebuah ciuman yang menghangatkan
dan sirna dipagi buta
sebelum nikmatnya kureguk habis
atau keseluruhan hidup adalah mimpi
dan terjaga malam ini
“inikah arti sebuah Cinta Sekolah Dasar”
( 21 Mar. 79)

Akhirnya sebuah pengakuan tulus digambarkan dalam puisi pendek yang manis ini, ia bak seorang kanak-kanak yang sedang merindu kasih sayang atau orang yang sedang bermimpi indah dan sirna di pagi hari.

SEBUAH SENJA DI PASIR ANGIN

Damai....
di puncak bukit Pasir Angin
menyentuh rasa paling dalam
kesunyian alam disini yang hanya diramaikan suara-suara burung
mengiringi lagu rinduku, oleh hidup yang dapat lepas
dari segala keinginan yang membawa tuntutan-tuntutan
Bunga-bunga hutan dari rerumputan yang tumbuh bebas
memadukan warnanya oleh keindahan murni
tanpa perlu merasa dibutuhkan
angkuh dan megah
ternyata, tidak adanya keinginan
adalah bebas dari ketakutan
tersentuh yang datang dan melepas yang pergi
tanpa harapan adalah damai
Dia begitu indah
karena dia menerima hujan yang datang dingin,
angin yang acapkali merontokkan bunga-bunganya
tanpa penyesalan
namun dia anggun untuk tumbuhnya yang wajar

Kupandang gunung-gunung yang memanjang mengelilingi
dalam bentuknya yang gelap
karena aku ingin segera menjadi bagiannya
walau hanya beberapa saat
sebelum kembali kedunia ku
dan langit yang tak pernah kering oleh gumpalan awan
yang memadukan aneka macam bentuk tanpa rupa
oleh ketidak tetapan angin yang menghembusnya
datanglah angin, aku adalah ilalang kini
yang diam dan bergerak
tidak untuk mencari belai
tak ada tuntutan..!
Puncak-puncaknya yang tertutup awan
acapkali menipu diri sebelum terdaki
walau berulang kali pelangi muncul
tanahku tetap becek oleh lagu duka
aku tak berniat menggapai awan
di puncak bukit ini, aku adalah ilalang
yang sedang ditiup angin senja ...

Dan ketika kuluruskan pandangan ke atap-atap rumah kota bogor
kecewa!
tak kulihat jakarta....,
jarak antara kita tak terlalu jauh
tanpa sadar kuhela awan
mendekap mesra bayang-bayangmu
ah.., alangkah bahagianya seandainya kau ada disini
kan kusuntingkan sekuntum bunga hutan itu, diantara kupingmu yang kiri
lantas ku tahu aku tak pernah memandang bunga itu lagi
Disini yang ada hanya kau..!
dan kitapun akan berlari-lari, mengejar mimpi-mimpi lalu....,
lalu kita berteduh disini
di bagian yang paling sepi
mendekap tubuh yang lama ingin bersatu
membongkar isi cermin dalam nada cinta
yang telah tersedia sekian lama
menghela segala keraguan, seperti angin
yang menghempas awan hitam dari tanah kita
kuhirup segala nikmat dari keringatmu
dan akan ku sembunyikan cerita lalu tentang kita
untuk memulainya dengan yang baru dan segar..

Kupandang gumpalan awan yang beriring tanpa rupa
tiba-tiba gelisah datang menggigilkan
di mana damai tadi..?
dimana bunga-bunga hutan itu
dimana pula ilalang yang sedang ditiup angin senja ..?
Dalam bentuknya bunga-bunga hutan itu masih bertebaran disini,
ilalangpun tumbuh berserakan
mengisi tanah-tanah yang belum terpijak manusia
chayalku menghilangkan aku dari duniamu
Kuhempaskan tubuh kerumput-rumput hijau, lelah..!
dan aku duduk memeluk kedua lututku
kulihat pohon-pohon vinus yang berbaris memanjang
makin jauh makin kecil ia
menunjukkan jalan yang menghubungi
kampung dibawah sana
kucoba bayangkan hidup dikampung terpencil itu
aku tetap, makin sedikit keinginan
makin lestari kebahagiaan...

Matahari bersiap terjun kedalam pelukan malam
kegelapan mulai merayapi perbukitan ini
hanya garis merah memanjang disebelah barat
memberi sedikit penerangan, pada jalan curam menurun
tak ada suara-suara lagi dibukit ini
kecuali bunyi jangkrik
mengiringi langkah-langkah kaki yang menuruni bukit
menambah beban
berlari-lari
memacu gelap, tambah turun, gelap menjadi pekat
tak ada yang dapat dilihat
setiap langkah melalui rabaan
sebelum tiba dikampung pertama.
(24 Maret 1979)

Kemanapun ia memalingkan mukanya, ia tak bisa lepas mengingat gadis pujaan hatinya itu, ia berangan-angan andainya ia dapat bersama sang kekasih itu..., ah betapa bahagia dirinya dan ketika ia bepergian dengan teman-temannya ke bukit Pasir Angin, demikian nama yang diberikan penduduk setempat. Ia tak bisa juga lepas dari kerinduan akan sang kekasih, alam yang damai menambahkan rindu dendamnya tak terperi lagi. Puisi ini berbeda dengan yang lain karena menceritakan susana hati saat berada dekat dengan alam yang sunyi, ia bercerita tentang rumput-rumput liar, angin, awan dan gunung serta burung yang berkicau. Tapi pada akhirnya wajah sang kekasih juga yang dicarinya.

TAK BOSAN SEGALA SEPI

Matahari telah terjun kedalam pelukan malam
bak seorang pencuri menghilang di kegelapan
alampun menjelma hitam
unggas, angin dan mergasatwa
masuk keperaduannya
bintang-bintang beredar dalam pusingan malam
bertebaran dalam bingkai tak bertepi
berkelip-kelip cahanya bak permata
menghiasi keindahan lukisan sang ratu malam

Dari angin yang datang dingin kini
dari sepi bumi alam begini
dari kerinduan yang tiba-tiba datang mencekam,
dari bayang-bayang sebuah wajah
kuhela kantuk dari mata puspita
tuk mereguk nikmat dalam sunyi
menyejuki taman sari hatiku
yang resah
oleh hidup yang luput dari duga dan harap
Direnyuh cita rasa nan indah
dalam khayal
ku dekap erat sebuah bayang
hilang merasuk kalbu semakin dalam
tapi, rinduku bersemi tanpa rupa
bergelora dalam buta
Aku cinta..!
dan aku dibuai rasa
mengalir lembut, sejuk dan nyaman di dada
tanpa warna.....
Ah......cintaku tak pernah ada
cintaku sepi dari rasa
cintaku hanya sebuah puisi jiwa belaka
Kau tak pernah datang menjenguk cintaku, kasihku
memberinya sedikit tenaga
dan membiarkan tenaga itu menghempas kegelapan yang menyelubunginya
Kau tampakkan cintamu dibalik tembok asing
menjadikan dirimu seanggun dewi
tapi..., banggaku menjelmakan dirimu dalam khayal
menemaniku setia
tanpa rasa, tanpa warna
sedamai tengah malam ini
(18.04.79)

Ia mulai menimati kesendiriannya dengan cinta yang penuh didadanya, ia rela untuk tak memiliki, sekalipun ia yakini si gadis itu adalah sumber kekuatan hidupnya. Ia hanya ingin agar gadis itu lepas dari cinta kepada dirinya, itulah kebahagiaan yang ingin ia berikan kepada sang gadis. Ia tak peduli tentang rindu dirinya kepada sang gadis, ia cukup dengan angan dan khayalnya, ia bangga karena ia pernah mecintai si gadis itu......!

SURYA SEMAKIN MEMUDAR

Kasihku..!
surya semakin memudar di cakrawala citaku
bayangan-bayangan kelam terbit diufuk fajarnya
nun jauh direlung hati,
takjubku cemerlang
berselimut nada asing yang nian sumbangnya
Kasihku..!
sedang hidup menuntut keberanian, ketabahan
untuk tetap berpijak dan menghaturkan sedikit bakti
sebab, dibumi ku
terkadang dosa nan nista nampak menjadi begitu indah,
begitu menggiurkan
oleh gelora birahi yang menuntut lepas kekangnya
mencumbu rasa dalam khayal
dan berlari kedalam mimpi-mimpi
dan aku takut terjerembab kedalam lembah nistanya
Kasihku...!
walau rona diri kini, hanya sebuah bayangan samar,
tak dimengerti
namun dibaliknya bertahta budaya insani
bak potret alam menjelang fajar
begitu dingin dan kaku
tapi dalam pelukannyalah sang surya terlena
Kasihku...!
dan alam yang membentang luas tanpa batas
menjadikan diri setitik debu
hidup dan mati semakin sukar tuk dimengerti
Kasihku...!
dari suara yang pernah keluar dari lubuk hati yang paling kecil
suara yang paling akhir
suara yang paling tak terdengar
kujeritkan harap
berilah aku semangat
tuk mengubah puisi ini tak semata milik jiwa
cinta yang bergelora
yang menghembuskan bayu nafsunya
membenihi ghairah dikehidupan
menyemburkan keringat menyuburi bumi persada
ku ingin mereguk nikmat bahagia disisimu
tetapi,
andai ada sebuah jalan lain yang tanpa teriring dosa
kupilih yang ini
sebab aku telah terjerembab
kedalam sebuah lembah tanpa dasar
yang sepi oleh rasa dan tangis
hanya keragu-raguan yang menghalangi setiap langkah
untuk mencoba bangkit
Kasihku...!
mimpi ini teramat panjang
membelenggu, tak terpisah
dan maukah kau mengerti
alam ini telah menyisihkan aku dari sisimu
walau besar hasrat memberontak
Kasihku...!
yang ku tahu kini, aku berdiri
tapi, entah dimana
(26 April 1979)

Pesona duka telah akrab liwat suasana bathinnya, ia hanya bisa bicara dengan dirinya sendiri betapa ia bisa menikmati cinta itu utuh dan tak terbagi. Ia mengerti bahwa ia semakin jauh kini dengan si gadis, tapi semakin dekat melekat dihatinya. Ia ingin berada ditempat yang tidak ada keinginan lain selain keinginannya untuk memberikan apa saja untuk kebahagiaan sang gadis, ia semakin tak peduli ......, ia mau lari dan sembunyi kedasar hati yang paling jauh, paling tak terbaca oleh siapapun.

DOA PENYAIR MUDA

Lembut rona mentari pagi mu
menyentuh kulit di dada tak’jub
Tuhan ku....,
Allah Yang Maha Indah
berilah aku sepercik cahayamu
pelita dilubuk kalbuku
kan ku tabuh cinta
hinggar binggar di bingkai kata
mencumbu iman
mereguk nikmatmu
bahagia.....(april 1979)

Akhir pelariannya sampai kepada kerinduannya terhadap sang Khalik, maka setelah iapun berusaha menekan keinginan cintanya yang tak terjawab itu, iapun bermimpi menjadi seorang penyair atau bahkan mencoba memandang hidup dari sisi iman. memperhatikan fenomena alam sekitarnya dalam menghadapi kenyataan dan mengembalikan perasaan gundah gulananya dalam menghadapi kenyataan cintanya yang tak pernah sampai itu kepada kerinduanya kepada langit. Ia kini mulai memandang dunia diluar dirinya, yang digambarkan pada sosok Puisi Langit.

PUISI LANGIT

Riak derai ambak laut
memecah lepas di pantai sepi
membentur tepi karang curam
kian gemuruh
menjadi musik merasuk kalbu
dibuai angin
pohon-pohon palma dan nyiur merunduk mesra
menimbulkan bunyi
mengatupkan mata
dari kepalsuan pesona
Pasir putih
lembut kemilau
terhampar bening menyusuri pantai
membias warna doa
yang berulang-ulang dalam sunyi
sambil berdiri dipematang senja
tersimpan hasrat
tuk membangkitkan sukma
hidup.., membisikkan kata, bak pujangga
langit tak bernoda..!
awan hitam, terhempas kelayar kenangan
Datang.., datanglah kau pujaan
kau akan ku jelang
bersama kita terbang
menerjang gerbang nirwana
tak lagi ku lena dalam pesona
tak juga terkicuh duka
sambutlah aku kini
mari menggapai mesra
untai birahi asmara
lestari bahagia
(awal mei 1979)

Firman langit membawanya kepada teguran “jangan berputus asa dari rahmat Tuhanmu” Ia nampaknya ingin mencoba bangkit, menentang aral melintang, memacu semangat tuk maju kedepan. Menyongsong hidup bersama sang gadis pujaan. Ia berbenah diri, entah apa yang diperolehnya dari firman langit itu.....
Suatu saat ia mendengar w.s. rendra membaca Puisi di Kampus Kuning Rawamangun, hatinya tertegun kagum, mengapa ia begitu dalam terkurung, tak seperti rendra yang lepas liar, bebas merdeka. Ia mulai menengok kedalam hatinya, tentang cinta negerinya.

W.S RENDRA

Dibawah panji puisi
seseorang yang dikenal
tak henti menggemakan suara lantangnya
menentang kezaliman
yang berdiri teguh ditanah pusaka negerinya
membentur sukma, jiwa-jiwa bangkit
meniup api bara kebenaran
di hati-hati yang tak pernah tua
tuk mengerti arti kebebasan di negeri ini
Langit di negeri ini tergetar
menggentarkan jiwa-jiwa kerdil
sang penguasa naik pitam
tirai besi ..!
untuk dia diam
Tapi mereka lupa
dia, bukan hanya seonggok tubuh
yang hanya dapat bersuara lantang
lantas dapat disumbat
tidak.., tidak..
dia adalah sebuah jiwa
jiwa yang akan tetap hidup
selama kezaliman masih berada diatas kebenaran
tangkaplah satu rendra
seribu yang menyerupainya muncul serentak
karena dia hanyalah sebuah cermin
dari nafas kebebasan di negeri ini.
(7 Mei 1979)

Keterlepasannya dari dunianya sendiri, menyambut suara gema lantang sang Penyair kondang WS rendra, memberinya semangat, hidup....! adalah berjuang untuk keadilan dan menghancurkan kezaliman......, maka ia pun tetap kerap mendongak kepada langit, disana ada sang maha Raja kerajaan alam semesta raya ini.....

PUISI YANG MENDONGAK KELANGIT

Bumi disini
dikitari pelangi nafsu angkara
oleh pesona fana diri-diri menjadi lupa
hasrat dengki kian semarak
oleh tepuk riuh dan anggukkan kepala tak berleher
sang kerdil menepuk dada kosongnya
berbunyi nyaring
melengking digendang telinga tuli
bergaya semangat herois, mereka berteriak
“kita tidak butuh langit”
ditengah suara kosong mengerontang
dan hanya membawa angin berbau busuk
tergetar sebuah jiwa nan lembut
melena dicumbu nikmat semesta
di ciumnya angin
gerimispun mengalir dari matanya
dipeluknya rembulan, disentuhnya bintang-bintang
dia rindu kedamaian
dia cinta keadilan
getaran jiwa sampai menggentarkan jari-jarinya
ditulisnya sajak tentang cinta dan langit
“mata kami tidak buta, hati kami tidak lupa
melihat kekuasaan yang bertahta di atas langit
hingga sampai keperut bumi yang kami pijak
sia-sialah tipumu terhadap kami
karena mata-mata kami tak silau oleh kemilaunya hartamu
atau manisnya mulut bisa mu
tengoklah fajar nan bersinar kemilau
tak juga kah kau dengar hati gentar mu
ketika kau melihat kami
bersujud kelangit”
atau ketika hatimu tersentak
mendengar firman langit
yang berisi cinta dan keadilan
maka, hentikan tipuanmu itu
sebab kami rindu bersamamu
(mei 1979)

Ia mencemooah lingkungannya, orang-orang yang ada disekitarnya sebagai pengikut tak berleher, si penipu yang senantiasa bertepuk ria menyambut kata sang penguasa, dimana saja dan apa saja yang dikatakan kepada mereka....., bodoh memang mereka.... penakut yang licik sifat mereka, berdiri dibelakang orang lain.
sajaknya kini bicara tentang dunia yang dinikmatinya, ia ingin kembali bersama dan bersatu padu membangun negeri tercinta ini. Kemudian nyatanya tak banyak yang dia dapat lakukan dan bahwa akhirnya perasaan cintanya kembali menguasai seluruh kekuatan hidupnya dan ia kembali seperti sebelumnya, kembali kepada sajak-sajak cintanya.

ASMARA

Kau hisab tenagaku
kau buang aku ke lembah sepi
kau sisihkan aku dari kekasihku
kau bilang dia dewi yang suci, kini, kau rebut pula hidupku
kau ajak aku menyelam ditelagamu
bayangan mentari yang menari-nari didasar lautmu
menarikku berenang bersama ikan-ikan kecil
menyusuri gelapmu
di dasar mu tak kutemui apa-apa
kecuali bayanganku sendiri
dalam sepiku, kudekap kau erat-erat
keselusuri legak-legok tubuhmu
tak kutemui apa-apa, selain diriku sendiri
mana dewi ku...?
aku mau menangis , tapi aku pernah menangis
lantas aku menghitung-hitung...
hitung langkah....
hitung detik ......
tapi, oh Tuhan aku lupa lagi ...
mulai lagi
dan lupa kembali
gila
ada dimana aku
sekarang tahun keberapa...?
(Tanpa Tanggal)

Ia ingin menyalahkan asmara, asmaralah yang membuatnya seperti ini, ia mencoba memprotes, tapi tak lain ia hanya bicara tentang dirinya sendiri.

YANG TERJADI BEGITU CEPAT

Waktu dalam samar aku meraba-raba
kutangkap belai, lalu kugenggam erat-erat
waktu dalam sepi aku mencari-cari
kutangkap tawa..., kudengar tawa kita bahagia
ini terjadi begitu cepat
hingga tak sempat lagi kuhitung-hitung
sisa nafas yang tertinggal
lalu itupun seolah tiada
bersamaan pesonamu yang makin lekat
kau datang
walau berupa rindu yang kugenggam
namun belaimu mengusap jauh
menghapus sangsiku
tanpa kata kita bicara
dengan mata hati berjanji
ini tak lagi berupa mimpi
seperti kerap kuimpikan
selamat merindu dalam sepi kasih,
pada angin dan mimpi-mimpi jelang
dari laut, darat dan udara yang memisahkan.
(mei 1987)

Suatu saat ia menerima kedatangan keluarganya dari Palembang, ia berkesempatan mengiringi keluarga itu, ia terhentak oleh tatapan mata seorang anak, tanpa dapat dicegah ia hanyut dalam kenyataan dihadapannya, seorang anak perempuan mungil dan kecil ia, baru sekitar 16 tahun usianya, ia anak saudaranya sendiri. Berjalan sambil saling mengenggam tangan, hangat dan hanya ada satu bahasa yang tak terucap, air mata terlihat dipipinya ketika ia kembali bersama keluarganya ke Palembang....
Saat itu sejenak ia rasakan, tapi ia merasa ada sesuatu yag tertinggal di hatinya.., mungkin rindu..? tapi akankah itu mampu menguak tabir cintanya dan dapatkah ia melepaskan cintanya kepada si gadis..?

KAU DAN AKU

Kau adalah mentari
gunung-gunung hijau dan malam-malam yang dingin
kau adalah lautan
gelombang dan pantai tempat pelabuhan mimpi-mimpiku
Pernahkah terlintas dalam pikiranmu
kita akan tak saling menyapa ..?
tak terdapat sungai antara hati kita
untuk mengalirkan kata
dan....,
tak ada kata yang benar dapat kulukiskan
angin, waktu dan sepi
kecewa dan dendam, cinta
dan burung-burung camar yang menjerit sepi
adakah tanya...adakah jawab
(mei 1979)

Ia masih bicara tentang si gadis pujaan hatinya dan nampaknya ia ingin mengusir sepi dan berlari dari perasaan kesangsian kemampuan diri menghadapi kenyataan cintanya kepada si gadis. Tetapi Ia ingin mendapatkan si gadis dengan cara yang membanggakan......, si gadis pujaan yang cintanya tak lekang kena panas dan tak susut kena hujan....... Namun bagaimana dengan si mungil dari Palembang.....? Pada diri si gadis kecil mungil itulah ia temukan apa yang dia inginkan......

KITA SAMA SETUJU MELEPAS PALSU DAN RAGU

Ini bukan keanehan
atau kebetulan
jika baru dijumpa ini
kita sampai kesitu
ada kata tak lepas
megikat mata dan senyum
ada rasa trak mati
membuntuti hati
ini bukan puisi rengekan
karena kata tak pernah sampai
atau karena kau tahu hati tuaku
aku hanya teringat
waktu hati-hati kita berpelukan
dalam genggaman tangan yang meremas-remas
saat itu baru ku tahu
kita sama setuju melepas palsu dan ragu
(Mei 1979)

Ia masih menggambarkan suasana hati Saat-saat kebersamaan dirinya dengan si kecil dari Palembang, ia masih tetap mengenangnya, ah... betapa indahnya hidup, betapa bergairahnya ia, tapi apakah kenyataan itu kelak dapat memalingkan hatinya kepada Gadis pujaan hatinya itu...

AKU TAK INGIN KAU TAHU HATI TUA KU

Tertumpu harap
disungging sebuah senyum
meluncur lepas diderai mimpi
membentur pagi-pagi sepi anginpun datang menghempas angan
yang menari-nari dalam ingatan
yang selalu luput jika hendak digenggam
Kudekap mesra rasa yang tinggal
bersama sepi kubuai rindu
yang beriak-riak di danau hati
akupun tak pernah mengerti
mengapa badai api ini
tak membangkar jiwa dan langkah
Akankah aku berkata cinta ?
jika suara hanya terukir disudut mata
sebab lidah menjadi kelu
dan langkah tersendat-sendat kaku
sebab tak mampu menahan berat isi dada
Atau bercerita tentang rindu
jika kulit tak pernah bersentuhan
dan darah yang mengalir cepat
sebab menahan perih
Ah.. datanglah tangan-tangan sayang
yang akan membelai malamku
membukakan jendela kamar mimpiku
biarkan angin
dingin datang menutup gelisah
dari bara sangsi yang membakar keringat
Jangan biarkan nafasku berdenyut harap
sementara kenyataan berlangsung dalam bisu
teriklah aku..
dari selimut mimpi ini
telah kau lihat
aku yang merunduk dalam sunyi
kini tertawa bahagia bersama mentari pagi
mendekap mesra hari-hari bersamamu
mengiringi ayunan senyum hatimu
sebab...,
baru dijumpa ini hati kita berpelukan
mengantar hangat disudut kalbu
peluklah aku
hai tangan-tangan sayang yang akan membelai malam-malamku
walau jauh tangan belai
hatimu, sisihkan untukku
(juni 1979)

Ketika kebersamaan itu kembali menyelinap dalam tirai keteguhan hati, dan sembunyi dibalik kekuatan cita sang gadis, ia kembali terperanggah, begitu mudahnya aku menyerah.......dan kalah lagi........atau keseluruhan hidup ini harus dijalani seperti ini......, kepada sesuatu yang tidak dimiliki , tidak dimengerti........
Setelah sekian kali ketakberdayaannya berulang menghadapi si Gadis, ia mengharap si kecil dari Palembang menjadi harapan yang bisa menghibur hatinya...., walau jauh tangan belai , hatimu sisihkan untukku...
Maka iapun bicara tentang keindahan, ketulusan dan kebenaran cintanya. Disinilah ia terlihat ragu, ia bertanya akankah si kecil dari Palembang itu dapat mengganti gadisnya......? Bagaimana akhirnya..., kejauhan jarak kah yang mengurangi kemungkinan itu....! apapun alasannya nyatanya tidak...., pada surat-surat yang kemudian dikirim, ia ceritakan tentang kisah cintanya dengan si si gadis idaman hatinya itu kepada anak mungil dari Palembang yang tak dapat ia lihat bagaimana wajah anak manis itu ketika membaca suratnya....
Setelah periode Juni 1978 ada perbedaan dalam penulisan sajak atau puisi nya, bak sebuah babak dalam satu seri cerita, sebab sampai pada titik dimana ia ingin memilih jalan hidupnya bersama dengan si gadis kecil dari palembang disatu sisi dan disisi lainnya ia tak bisa lari dari sang gadis pujaan hatinya itu. Ia tampak terombang ambing dalam situasi seperti itu..., kesederhanaan cinta si kecil menjadi begitu lekat dihatinya, tapi ketaksanggupannya menghianati cinta kepada si gadis....... ah, betapa cintanya ia kepada si Gadis itu, sekalipun ia sadar bahwa cintanya bukan seperti cinta kebanyakan dan ia mengerti bahwa pada akhirnya ia tetap tidak akan mampu menyatakannya, tapi ia tak pula punya kemampuan untuk melepaskan diri, ia hanya ingin si Gadis mendapatkan orang lain yang dicintainya terlebih dahulu, sebelum ia berpikir untuk mencari yang lain untuk hidupnya.

Rabu, 03 Juni 2009

“ Berbongkah Sepi II “

blogcu.com/yinebiirgulnihal

Pemisahan ini dilakukan untuk menjelaskan bahwa setelah ia pernah mencoba berlari dari diri si gadis dan mencoba melupakannya dengan memilih gadis lain yaitu si kecil dari palembang, namun kemudian akhirnya ia sadar betul bahwa tak mungkin hal itu dapat ia lakukan. Ia kembali pada cintanya dengan satu kepastian, bahwa ia hanya punya cinta itu saja, sebuah cinta yang sungguh-sungguh, indah dan teramat agungnya. Ia tak peduli akankah si gadis mau menerimanya atau menolaknya............, ia siap menerima apapun akhirnya itu

Ini adalah Sajak-sajak tentang Cinta yang tak pernah terselesaikan. Disampaikan oleh seseorang yang katanya mau jadi penyair :

Tapi, sajak-sajak ku

bukan sajak murahan

seperti yang ada dikoram-koran

dibaca orang

dan jadi barang loakan

Sajak-sajak ku hanya untuk istriku

yang tak pernah baca sajak di koran-koran

juga yang tak pernah mau baca sajak-sajak ku

Sajak-sajak ku adalah sajak yang paling benar

atau yang paling berhasil sebagai sajak

itu kataku

sebab istriku tak pernah mau menjadi istriku

apalagi sebagai pacar

Padahal sajak-sajak ku

adalah sajak-sajak cinta

yang paling jujur dan paling setia

Tapi

Sajak-sajak ku toh....

Tetap sebagai sajak

kalau bukan

bukankah aku gagal jadi penyair

padahal aku adalah penyair

tapi..,

toh.... tak perlu orang lain tahu

kalau istriku juga tidak tahu

(tanpa tanggal)

Akan kemanakah puisi cintanya itu ia bawa, sepertinya ia yakin suatu saat entah kapan..., ia akan bersama dengan sang gadis pujaannya, sepertinya tak ada lagi kekuatan yang dapat memisahkan dirinya dengan gadis pujaannya itu. Sedang hubungannya dengan si kecil dari Palembang nampaknya juga telah berakhir sejak ia menceritakan dalam surat-surat yang dikirimnya kepada si kecil itu tentang cintanya kepada si gadis pujaan hatinya dan kemudian dalam surat balasan si kecil dari Palembang, si kecil itu mendoakan agar kelak ia hidup bahagia dengan si gadis.

Cintanya telah besemi kokoh dan dalamnya tak kan ada lagi yang mampu mengusiknya....., Ia cinta..., ia rindu... ia sepi..., tapi ia mendapatkannya dari sinar mata si gadis. Maka ia hanya ingin agar gadis itu bahagia ....... tak peduli lagi, apapun ia akan berikan buat gadis pujaan hatinya itu. Ia tampak mulai tegar menghadapi kenyataan dirinya, ia sepertinya telah siap akan apa yang kemudian dihadapinya........,

CINTA LARA

Malam bertambah kelam

namun, tak juga tampak tanda fajar akan terbuka

dan aku makin merasa sepi

rindu dan terasing

terbaring nyenyak dalam pangkuan malam

dan esok

saat mentari membuka pagi

aku tak pernah dapat melihat

tangannya yang lembut membangunkan kehidupan

karena saat itu, aku t’lah lama hilang

bersama malam yang pergi entah kemana

Kata orang hidup ini adalah cinta

yang bersih dari keinginan dan nafsu

ku biarkan anganku menari-nari

dipucuk-pucuk cemara

sementara malam, terus merangkak ketepi

“kita t’lah terlanjur bersama

menanti-nanti fajar menutup malam

daun-daun cemara menutup bulan dimata,

tapi setelah dua putaran masa luput dari genggam

yakinlah aku, fajar yang kita nantikan

tidak pada matahari yang sama

sekalipun kau adalah matahari hidupku..

Udara dingin dan basah

tak jugakah aku berkemas..?

disaat semua akan bangkit..., untuk hidup

.... untuk cinta !

aku memilih diam bersama malam

biarkan aku merindu kisah-kisah lalu

atau pada cerita tentang pagi nan cerah

mengisi sisa yang tertinggal

(1.agus.79)

Ia semakin menyadari arti cintanya kepada si gadis, setiap kali hanya kenyataan seperti itu yang dihadapinya..., namun ia tak mungkin surut langkah lagi. Ia semakin tak peduli, cintanya penaka angin nan senantiasa ada, tapi entah dimana ......? tanpa harapan, belai kasih yang diharapkan......hanya ada cinta.... yah hanya itu miliknya yang paling berharga...!

KAMAR

Masih disini,

aku biasa sembunyi

dan selalu saja, tambah akrab, tambah tau

kepada tembok-tembok disini

aku biasa bercerita

dan dengan aman aku ungkap rahasia,

duka dan tangis yang aku sembunyikan

Sebuah kursi rotan, sebuah meja dan tongkat tua

aku tersadar

tapi menyenangkan untuk dikenang

sebab akhirnya ...., satu demi satu

berpuluh kesedihan ,kukalahkan

tertidur nyenyak

dan bermimpi tentang hari depan yang tak pasti

(agustus 1979)

Ia semakin tak peduli, akankah cintanya itu bersemi atau ia akan layu sebelum berkembang, ia bahkan tak pernah membayangkan yang lain kecuali bahwa ia cinta......., ia hanya jatuh cinta itu saja......!

KEMAUAN YANG DATANG PERTAMA

Kumbang- kumbang kecil

menyelinap diantara bunga-bunga anganku

menatap pagi

bak petani menyandang cangkul dipundak

sebab bumi

dan sajak yang kupijak,

selalu saja, aku melihat wajahmu kembali

ketika tertawa dan senyum

kau pasti menyimpan duka

kau selalu saja tambah setia mendekapku

aku ingin kita aman bicara

dan leluasa mengeluarkan isi hati

tapi, selalu pula

aku ingin kau tak terbagi

iri... dan cemburu .....

aku harus berhenti mengenang mu

dan memandang hari lebih baik

Kumbang-kumbang kecil

menyelinap antara bunga-bunga mimpiku

menyambut pagi

bak petani mengayun cangkul

(agus.79)

Apakah ia akan dapati kebahagiaan atau kesengsaraan karena cintanya itu, ia tak punya pilihan apa-apa lagi, kecuali yang dia tau bahwa ia sedang mencinta.....

KETIKA AKU KEHILANGAN ENGKAU YANG LAMATELAH HILANG

Benih yang dulu ditanam dari air susunya

dan kuncup oleh belaian tangannya

kini mencari dia

Ibu....!

aku kehilangan engkau yang telah lama hilang

Ibu sayang...,

Ibu tercinta...,

aku melihat wajahmu kembali bu..

aku jatuh cinta bu..

aku berharap

ia penuh seperti mu dulu

Namun itu tak mungkin

seperti juga kau bu..

(agustus 79)

Suatu saat ia rindu kepada ibunya yang t’lah lama tiada, sejak ia masih kecil. ia ingin tahu berapa kalikah ibunya menciumnya sebelum ia pergi tidur, atau membelai rambutnya dan pernahkah ibunya menyanyikan lagu agar ia nyenyak tidur...? Ia yakin bahwa ibunya tentu mencintai penuh dirinya...., ia ingin itu..., bahkan ia sangat butuh kasih sayang seperti itu..., adakah si gadis itu dapat penuh cintanya seperti ibunya dulu...?

JAUH DILUBUK KALBUKU DAN BERGETAR SEPERTI GELOMBANG

Ada yang pasti, kasihku

sesuatu yang memaksa aku percaya

tapi...., aku tak tahu....?

figurmu..,

menjadi legenda yang akrab liwat hatiku

mengalir bersama darah,.. dan

menyatu dalam jiwa

dan..., apapun alasannya

barangkali dapat tidak

kau..

tetap tegak pada mimpi-mimpiku

(Agustus 1979)

Si gadis selalu hidup dalam jiwanya, mengalir bersama darah dan bergetar bersama detak jantungnya, ia t’lah tak bisa berpaling lagi bahkan ia tak mampu lagi menoleh... mukanya dihadapkan lurus kedepan, pesona si gadis yang semakin tak dikenalnya....semakin pudar dan semakin dalam tenggelam kelubuk hatinya yang paling dalam. Tak tercermin, membekukan kata dan langkahnya.....

SAJAK TANPA NAMA

Liwat celah rambutmu yang hitam

kubuka hari-hari dengan harapan yang berbunga-bunga

indah dan megah

membawaku terlena dalam peluk asmara

langit bertabur bintang

mirip wajahmu yang cantik cemerlang

dan bila ada angin datang mengusap wajahku

membuka jendela kamar-kamar mimpiku

seperti senyum yang sering kau lemparkan kepadaku

maka tahulah aku

sebagian hidupku telah kuserahkan untukmu

Aku cinta kepadamu

sebelum aku mengerti, apa yang dapat kuperbuat,

buat itu

dan hari demi hari berlalu

matahari membuka dan menutup hari

seperti angin menyentuh tubuh

seperti cinta membentuk peristiwa-peristiwa

dalam putaran masa yang berjalan

namun, yang bisa terlukis , hanya sebuah kisah yang tak sudah

memahat ukiran yang tak selesai di jiwa

goresan-goresan samar

dari cinta yang tak sampai

seperti mega hitam menutup langit

cinta setia, harapan dan mimpi indah

kini terjerembab kelembah yang jauh dan dalam

tak teraba, gelap dan kosong

hanya kesepian membuka keluasannya

yang tak bertepi...

dan dendam...

(tanpa tanggal))

yah... ia semakin jauh, semakin tak dikenal dan semakin asing........... juga bagi dirinya sendiri....

SEBUAH SAJAK RENTA DICIPTA KARENA KEKASIH YANG DICINTA

Kemarau panjang

membakar jiwa, padang-padang kering

ketika panas memenuhi dada

oleh dendam yang dibakar sepi, ah....

kau datang

kembangkan senyummu

purnama di atas tertawa

tiba-tiba terlonjak keakraban lama

dari sapamu terpetik lagu rinduku

yang lama, yang nyaman dan tenang

seperti hujan, datang menyirami pohon-pohon kering

sejuk..!

dan ada rasa lembut mengalir di jiwa ini

akan tetapi...,

kesejukan itu berlalu lebih cepat

bersama bayang-bayangmu yang menghilang dibalik tembok rumahmu

tertegun menatap kesendirian

masih terasa sejuk didada

purnama di atas mengejek

apa yang terjadi barusan

begitu mudahnya aku berubah

itu tak harus terjadi

seandainya aku dapat berkata

“lupakanlah aku”

maka, malam ini

gerimis datang membasuk kota yang luka

mengusir panas dan debu

bersimpuh

kutumpu segala harap... sebuah sajak renta di hadapanku..

ku buka jendela kamarku

biarkan angin dingin masuk

karena kesenyapannya, membasuh lukaku

namun, masihkah tersisa keberanian mengulang kembali

setelah kemarau kali ini.

(september 79)

Ketika ia berada dalam keterasingan dengan dirinya sendiri, sang gadis datang menjenguk hatinya....., mengajaknya berjalan mengikuti langkahnya....! masihkah tersisa kekuatan yang ia miliki... ?

SELAMAT PAGI

Ketika tangan lembutmu , membuka tirai pagi

kegelapan malam terusir senyummu nan cerah

dan doa-doa yang sembunyi ditengah-tengah sepinya

kini menampakkan diri pada butir-butir embun

udara pagi yang segar

kebersihannya adalah obat segala duka

Selamat pagi Tuhanku..

mimpi-mimpi semalam

matahari dan bulan adalah perhitungan

yang mencatat waktu di garis kenangan

bagi kehidupan yang kau janjikan

Selamat pagi kasihku,

kicau burung di dahan mangga

adalah berita hati

seseorang menerima karuaniamu...

bagi cerita yang kan datang

Selamat pagi aku...

candangkanlah cita-cita mu

tanahmu adalah ladang padi

yang kan tersunting oleh angin didadamu

bagi bahagia yang kau dambakan

( 10 oktober 79)

Nyatanya ia hanya pandai bicara pada dirinya sendiri , peristiwanya persis seperti yang sudah-sudah, ia segera terdorong untuk bangkit menggapai si gadis, namun hasilnya ia kembali tak sampai seperti adanya ketiadaan, itulah cintanya pada sang gadis. Ketika tangan lembut si gadis menyentuh hatinya, ia terbangun dari tidur nyenyaknya dan ketika ia mengerti tentang pagi, tak ditemuinya si gadis ada disisinya....

.....................................*)

Pagi berkabutkan sepi

hawanya yang dingin

menghujam keseluruh tubuh

adalah kekerapan dari ketidak berdayaan

Pijar cahaya melintas

liwat kejauhan jarak

aku, makin diam tersangkut lara

sajak ku dari jiwa gelisah

membelah langit

mencari arti, makna tersirat

tapi..., kau tetap tak terpecahkan

(15 Oktober 1979)

Puisi tanpa judul, atau tak sanggup lagikah ia menangkap kata yang bisa mengungkap ketakberdayaannya. Setiap kali kegagalan membawa diri semakin jauh kedalam, cinta semakin terpendam jauh di lubuk hati, tak kuasa lagi menahannya.