Tidak terungkap kata dibathinku
menembus awanmu
hingga untuk sesuatu yang ada
bersembunyi sunyi
Adakah kau seperti aku juga..?
seperti ketika kau berkata
“ haruskah kuncup ini layu sebelum dia berkembang?”
atau ketika kau berkata
“aku bertambah kurus, pucat?”
atau senyum mu kah ...?
(yang semuanya berlangsung dalam sepi)
Atau akankah kunamakan kebisuan ini
“suatu kesetiaan”
sedang si bisu sekalipun butuh kawan
di waktu-waktu yang tak pernah ada
kenyataan, hanyalah berupa kesangsian
dan pura-pura belaka
atau....,
Akankah kunamakan ketakutan ini sebagai
“pengorbanan suci”
sedang nafsumu adalah sumber deritanya
dari waktu-waktu yang pernah ada
“kau adalah korban nasibmu”
(7 Mar.79)
Ia tetap tak bisa melepaskan diri dari belenggu cintanya sendiri, ia masih bercerita tentang diri dan kenyataan yang dihadapi, kisah cintanya yang tak pernah terwujud, ketiadaan keberanian menyatakan perasaan hati kepada si gadis pujaan hatinya itu, yang sangat dirindu oleh setiap lembar bulu di tubuhnya. Akhirnya ia mengakui nya....inikah arti cinta sekolah dasar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar