Waktu dalam samar aku meraba-raba
kutangkap belai, lalu kugenggam erat-erat
waktu dalam sepi aku mencari-cari
kutangkap tawa..., kudengar tawa kita bahagia
ini terjadi begitu cepat
hingga tak sempat lagi kuhitung-hitung
sisa nafas yang tertinggal
lalu itupun seolah tiada
bersamaan pesonamu yang makin lekat
kau datang
walau berupa rindu yang kugenggam
namun belaimu mengusap jauh
menghapus sangsiku
tanpa kata kita bicara
dengan mata hati berjanji
ini tak lagi berupa mimpi
seperti kerap kuimpikan
selamat merindu dalam sepi kasih,
pada angin dan mimpi-mimpi jelang
dari laut, darat dan udara yang memisahkan.
(mei 1987)
Suatu saat ia menerima kedatangan keluarganya dari Palembang, ia berkesempatan mengiringi keluarga itu, ia terhentak oleh tatapan mata seorang anak, tanpa dapat dicegah ia hanyut dalam kenyataan dihadapannya, seorang anak perempuan mungil dan kecil ia, baru sekitar 16 tahun usianya, ia anak saudaranya sendiri. Berjalan sambil saling mengenggam tangan, hangat dan hanya ada satu bahasa yang tak terucap, air mata terlihat dipipinya ketika ia kembali bersama keluarganya ke Palembang....
Saat itu sejenak ia rasakan, tapi ia merasa ada sesuatu yag tertinggal di hatinya.., mungkin rindu..? tapi akankah itu mampu menguak tabir cintanya dan dapatkah ia melepaskan cintanya kepada si gadis..?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar