Senin, 08 Juni 2009

PEMBUKA KATA

Ada suatu saat dimana setiap anak manusia merasakan sungguh-sungguh mencintai seseorang dan hal itu sebenarnya adalah hal yang biasa atau kalau tidak dapat dikatakan sebagai kodrat setiap diri anak manusia. Hanya saja yang membedakan, antar masing-masing diri anak manusia tersebut adalah bagaimanakah kisah cintanya itu berlangsung, bagaimanakah ia menikmati saat-saat dimana seluruh potensi kemanusiaannya dikerahkan untuk orang yang dicintainya itu. Cita-cita dan angannya, perjuangan untuk mencapainya serta semua yang dia kerahkan sekuat tenaganya itu, membuahkan hasilnya.

Cinta seperti itu harus segera tegas dibatasi. Pertama ia tidak terdorong hawa nafsu. Kedua, bukan keinginan untuk memiliki semata, tapi segala kebaikan atau kebahagiaan untuk sang kekasih. Ketiga, hanya bisa lebih dipahami melalui hati nurani (emosi), sebab kadangkala sulit terjangkau oleh pikiran jernih dan sehat. Itu adalah cinta yang sesungguhnya, murni dan sejati. Cinta sedemikian itu umumnya terjadi sekali dan tak mungkin lagi dapat berulang selama hidup seseorang.

Kumpulan puisi ini bersumber dari teks asli catatan tangan penulisnya, adalah gambaran ungkapan hati penulis saat mencintai seseorang gadis pujaan hatinya. Liwat lirik-lirik kata, ia bongkar isi cermin dadanya yang terbakar bara api cinta, karena cinta yang mengendap di jiwa itu telah pula membekukan langkah dan kata-katanya. Bahkan puisi ini pun tak pernah sampai kepada yang dituju, tak pernah dibaca kecuali oleh pembuatnya sendiri, tertutup rapat dalam buku catatan, tak pernah terungkap keluar dan dengan alasan itulah kemudian penulisnya memberi judul kumpulan puisinya sebagai “Berbongkah Sepi”.

Kisahnya disekitar tahun 1977, kurang lebih 25 tahun yang lalu. Tapi sesungguhnyalah tidak ada yang istimewa atau luar biasa, apalagi pelajaran yang berharga yang dapat dipetik dari karya ini, sungguh ! bahkan jangan yang ada yang ditiru didalamnya. Jikapun ada yang bisa dinikmati, adalah gambaran dari cinta dalam bentuknya yang tak bisa dimengerti, tak bisa dipahami, kecuali oleh pemiliknya sendiri. Keseluruhan puisi ini adalah ungkapan suasana hati, ketika lidahnya menjadi kelu tak mampu bicara liwat bahasa lisannya sendiri dan langkahnya yang tersendat kaku karena menahan berat isi dada. Ia hanya dapat menulis dalam kebisuannya, inilah cinta yang berbeda dengan cinta umumnya, seperti yang pernah ia gambarkan dalam salah satu puisinya “seperti adanya ketiadan.. sebuah ciuman yang menghangatkan dan sirna dipagi buta.. atau keseluruhan hidup ini adalah mimpi.. dan terjaga malam ini, inikah arti sebuah cinta sekolah dasar”. Liwat puisinya itu ia ungkapkan kisah cintanya persis sebagai suatu mimpi saat mencium kekasihnya dan ketika terjaga dari mimpi itu ia tak menemukan sang kekasih, ia hanya dapati dirinya dengan kesendiriannya, itulah kehidupan yang dijalaninya saat itu. Ia sampai demikian itu karena begitu terpana melihat sosok gadis sang kekasihnya, keterpanaan itu begitu dalam sebagaimana yang ia ungkapkan “Intan kemilau mirip matamu.. sedang hatimu memancar cahaya merah.. bak permata”, si gadis ia temui sebagai seseorang yang memiliki keteguhan hati yang keras, semangat yang kuat dalam meraih cita-cita. Ia bangga karenanya, ia bangga dengan cintanya tapi seperti ungkapnya: “nikmat itu terlalu nyaman dihatiku.. merebut semua langkah dan kata-kataku.. jangan salahkan kebisuanku, jangan pula salahkan langkahku”. Sementara ia melihat dirinya dalam kelemahan dan kepapaan, namun ia yakin bahwa suatu saat ia akan sampai kepada sigadis berjalan bersama mengiringi langkah si gadis menuju cita-cita. ia coba gambarkan keadaan dirinya sendiri, ”walau rona diri hanya sebuah bayangan samar kini,.. tak dimengerti,... namun dibaliknya bertahta budaya insani... bak potret alam menjelang fajar... begitu dingin dan kaku... tapi dalam pelukannyalah sang surya terlena”. Ia membela diri dibalik ketidak berdayaannya mengungkap cinta dan menangkap isyarat balasan cinta dari si gadis. Ia sadar dan sangat mengerti bahwa sumber kekuatan dirinya adalah pada diri sang gadis “aku kan terbang keangkasa.. mereguk anggur merah.. sementara kau yang kucinta.. mengiringi laguku.. karena tanpa kau.. aku adalah tonggak yang terpaku.. aku adalah layang-layang yang putus diangkasa.. menurut angin aku kan condong” sementara itu ia merasa bahwa liwat gadis itulah ia akan hidup dengan penuh gairah, berjuang menghadapi tantangan dalam menyongsong cita-cita meraih bahagia “Alam kujabat dari tanganmu.. bintang kugenggam dari matamu.. anggur putih kuhirup dari dadamu dan darah merahku menyusuri bumi ini.. mengalir lembut di hatimu” Kemudian ia melihat bahwa ketakberdayaannya itu telah membuat kesal dan kecewa si gadis, sehingga si gadis seakan mau berlari menjauhi dirinya, ia ditinggal sendiri dengan lamunannya “Jangan tinggalkan aku kasih.. aku takut sendiri di kamar ini.. aku takut melihat buku-buku dihadapanku.. aku enggan melihat tulisan tanganku sendiri.. kamar ini telah sesak oleh bayanganmu.. ranjang ini telah padat oleh pertemuan-pertemuan denganmu” Si gadis tetap tak peduli, ditinggalkannya cintanya dibelakang ia menatap kedepan, nun jauh disana Ibu Pertiwi menanti bakti diri. Tinggallah ia kini merenungi cintanya pada si gadis, terlena dalam buaian angan, tak bisa meninggalkan pesona dukanya. Maka setelah keletihannya yang panjang dan perjuangan menuju cita-cita yang tak sampai, ia ingin berhenti dititik ini, dibatas langkahnya “Sekarang aku diam dan membisu .. semuanya bagiku adalah semu.. lagumu bukanlah laguku.. langkahmu ke timur, aku ketenggara..tinggalkan aku dititik ini.. dibatas langkahku...” Akan dapatkah ia melepaskan dirinya dari kungkungan cinta kepada si gadis, nyatanya ia merasa si gadis telah hilang dari sisinya, mengapa..? ia bertanya pada dirinya sendiri “inikah cinta.. mana tubuhmu.. yang dirindu setiap lembar buluku, sejauh itukah atas langkahku” ia bertanya kemanakah si gadis kini dan kemanakah ia akan membawa tubuh letihnya itu..? Suatu saat ia bertemu seseorang gadis lain ia berkata “aku mesra.., kau mau.. sunguh-sungguh..! lantas kita berpisah.. kau menatap dalam.. mataku jalang.. kapan jumpa lagi”. akan sanggupkah ia..... ? Iapun mulai menengok dunia di luar dirinya, ketika ia mendengar WS rendra membaca puisi di kampus kuning rawamangun, ia tergugah membuat puisi tentang kezaliman “tangkaplah satu rendra... seribu yang menyerupainya muncul serentak... karena ia adalah sebuah cermin... dari nafas kebebasan di negeri ini“ kemudian dia melanjutkan dengan satu puisi lagi tentang kezaliman yang dihadangnya dengan kekuasaan Tuhan “mata kami tidak buta, hati kami tidak lupa... melihat kekuasaan yang bertahta di atas langit... sampai keperut bumi yang kami pijak” nyatanya hanya dua sajak itu yang ia bisa buat, sebab ia kembali kepada pelarian dirinya, kali ini ia berjumpa dengan gadis lain dari Palembang, masih familinya juga dan ia pun mencoba merajut kasih dengan sikecil dari Palembang itu. Namun itupun akhirnya tak sampai, karena pada akhirnya ia tetap menoleh pada gadis yang menjadi pujaan hatinya, ia ceritakan kisah cintanya itu kepada si kecil dari Palembang, tentang dunia cintanya yang yang begitu dalam. Ketika tiba-tiba si gadis pujaan hatinya itu datang menjenguk cintanya, maka ia pun kembali kedunia cintanya dan terus bermimpi menyambut cinta si gadis, sampai akhirnya ia tersadar cinta di dadanya itu adal;ah fatamorgana belaka, seperti ketika ia membuat keputusan akhir: dan jika esok ... saat mentari membuka pagi.. aku tak pernah melihat.. tangannya yang lembut membangunkan kehidupan.. karena saat itu, aku t’lah lama hilang.. bersama malam yang pergi entah kemana.

Memang demikianlahlah akhir perjalananya cintanya, ia tak pernah dapat menyampaikan isi hatinya kepada si gadis dan bahkan ia rela jika si gadis kemudian berpaling dari dirinya. Kemudian mereka memilih jalan hidup sendiri-sendiri.

Akhirnya penulis ingin menyampaikan bahwa untuk kepentingan sisi keindahan dan kekuatan bahasa suatu puisi, menurut ukuran perasaan penulis sendiri, kumpulan puisi ini disajikan setelah ada sedikit edit dari teks aslinya, sekalipun tetap dijaga agar tidak memalingkan atau merubah maknanya. Disamping itu cara penyajiannya diurut sesuai waktu pembuatannya, agar lebih dapat memberikan gambaran utuh perjalanan kisahnya, disamping juga dimaksudkan memudahkan memahami makna yang terkandung didalamnya.

Jika kemudian puisi ini dipublikasikan keluar, alasannya adalah semata karena penulis menangkap padatnya ungkapan ketulusan cinta dalam kumpulan puisi tersebut, namun apakah itu benar demikian, silahkan pembaca menangkapnya sendiri. Puisi ini sejak semula dibuatnya tidak sekalipun menyebut jelas nama yang dimaksud didalamnya, sehingga setelah 25 tahun masa berlalu, tidak ada lagi yang dituju khusus didalamnya, tinggallah ia kini sebagai sebuah karya diakui atau tidak, tapi memang demikianlah anggapan dan keinginan penulisnya sendiri.

Jakarta, 30 September 2002

Tidak ada komentar:

Posting Komentar