Senin, 08 Juni 2009

PUISI YANG MENDONGAK KELANGIT

Bumi disini
dikitari pelangi nafsu angkara
oleh pesona fana diri-diri menjadi lupa
hasrat dengki kian semarak
oleh tepuk riuh dan anggukkan kepala tak berleher
sang kerdil menepuk dada kosongnya
berbunyi nyaring
melengking digendang telinga tuli
bergaya semangat herois, mereka berteriak
“kita tidak butuh langit”
ditengah suara kosong mengerontang
dan hanya membawa angin berbau busuk
tergetar sebuah jiwa nan lembut
melena dicumbu nikmat semesta
di ciumnya angin
gerimispun mengalir dari matanya
dipeluknya rembulan, disentuhnya bintang-bintang
dia rindu kedamaian
dia cinta keadilan
getaran jiwa sampai menggentarkan jari-jarinya
ditulisnya sajak tentang cinta dan langit
“mata kami tidak buta, hati kami tidak lupa
melihat kekuasaan yang bertahta di atas langit
hingga sampai keperut bumi yang kami pijak
sia-sialah tipumu terhadap kami
karena mata-mata kami tak silau oleh kemilaunya hartamu
atau manisnya mulut bisa mu
tengoklah fajar nan bersinar kemilau
tak juga kah kau dengar hati gentar mu
ketika kau melihat kami
bersujud kelangit”
atau ketika hatimu tersentak
mendengar firman langit
yang berisi cinta dan keadilan
maka, hentikan tipuanmu itu
sebab kami rindu bersamamu
(mei 1979)

Ia mencemooah lingkungannya, orang-orang yang ada disekitarnya sebagai pengikut tak berleher, si penipu yang senantiasa bertepuk ria menyambut kata sang penguasa, dimana saja dan apa saja yang dikatakan kepada mereka....., bodoh memang mereka.... penakut yang licik sifat mereka, berdiri dibelakang orang lain.
sajaknya kini bicara tentang dunia yang dinikmatinya, ia ingin kembali bersama dan bersatu padu membangun negeri tercinta ini. Kemudian nyatanya tak banyak yang dia dapat lakukan dan bahwa akhirnya perasaan cintanya kembali menguasai seluruh kekuatan hidupnya dan ia kembali seperti sebelumnya, kembali kepada sajak-sajak cintanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar